Sabtu, 17 Juli 2010

ANALISIS PRODUK DPLK BNI SIMPONI (SIMPANAN PENSIUNAN BNI) DALAM MENGGAMBARKAN JAMINAN KESEJAHTERAAN NASABAH PADA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO)

ANALISIS PRODUK DPLK BNI SIMPONI (SIMPANAN PENSIUNAN BNI) DALAM MENGGAMBARKAN JAMINAN KESEJAHTERAAN NASABAH PADA
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK
CABANG PUSAT, JAKARTA

DISUSUN OLEH :
R. CHANDRA PERMANA
NPM : 054 385 211 007

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Program Studi Administrasi Niaga / Bisnis











SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
(STISIP) YUPPENTEK
TANGERANG
2009

ANALISIS PRODUK DPLK BNI SIMPONI (SIMPANAN PENSIUNAN BNI) DALAM MENGGAMBARKAN JAMINAN KESEJAHTERAAN NASABAH PADA
PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK
CABANG PUSAT, JAKARTA

DISUSUN OLEH :
R. CHANDRA PERMANA
NPM : 054 385 211 007

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Program Studi Administrasi Niaga / Bisnis

Diperiksa dan disetujui oleh :
Komisi Pembimbing



H. USMAN SUMANTRI, Drs., M.Si RIDWAN M. PANE, Drs., MM
Pembimbing Materi Pembimbing Metodelogi

Tanggal : ………………………. Tanggal : ……………………..

Menyetujui,
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
STISIP YUPPENTEK
Ketua,



(YAYAN SOPIYAN, SH., M.Si., M.SDA)
Tanggal : …………………………
SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
(STISIP) YUPPENTEK TANGERANG
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NIAGA / BISNIS

PENGESAHAN TIM PENGUJI UJIAN SKRIPSI

Pada Hari Jum’at Tanggal 24 Bulan April Tahun 2009 telah diselenggarakan ujian skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan akademik guna mencapai gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Ilmu Administrasi Niaga / Bisnis STISIP Yuppentek Tangerang, atas nama :

Nama : R. CHANDRA PERMANA
NPM : 054 385 211 007
Jurusan : Administrasi Niaga / Bisnis
Judul Skripsi : Analisis Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan
Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Pusat, Jakarta

Tim Penguji :

1. H. Usman Sumantri, Drs., M.Si Sebagai Ketua …………………

2. MD. Sukamto, Drs., M.Si Sebagai Anggota …………………….

3. H. AH. Sanwani, MM Sebagai Anggota …………………


ABSTRAK

Oleh :
R. CHANDRA PERMANA
NPM : 054 385 211 007

Peneliti berpendapat bahwa Produk DPLK BNI Simponi mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Jaminan Kesejahteraan Nasabah, dimana dengan adanya Produk DPLK BNI Simponi mempunyai tujuan memberikan solusi pendapatan yang lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan di masa usia purna tugas. Dengan perencanaan pensiun yang terprogram dan terencana dengan baik maka akan mendapatkan kepastian kesejahteraan yang lebih baik pada saat masa pensiun tiba.
Simponi (DPLK BNI) merupakan salah satu produk dari Bank BNI yang mengelola dana masyarakat untuk program pensiun yang semakin hari semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga permintaan untuk menjadi peserta Simponi meningkat. Dalam menompang hal tersebut diperlukan adanya petugas yang handal untuk menangani pelayanan kepada calon nasabah SIMPONI (DPLK BNI). Seiring dengan semakin bertambahnya peserta SIMPONI (DPLK BNI) dan persaingan pasar antar perbankan yang semakin kompetitif, maka untuk meningkatkan mutu pelayanan perbankan yang efektif dan efisien DPLK BNI memberikan rasa aman, hasil pengembangan yang optimal bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia melalui program pensiun yang diselenggarakan dengan pelayanan prima dan transparan.
Sesuai dengan uraian di atas, peneliti tertarik untuk membahas sejauhmana pengaruh Produk DPLK BNI Simponi yang diberikan oleh Bank BNI kepada masyarakat sebagai nasabah sehingga dapat memberikan Kesejahteraan Nasabahnya, untuk itu peneliti membuat judul penelitian sebagai berikut : “Analisis Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Jakarta Pusat”.
Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif, yaitu dari hasil jawaban kuesioner dari sampel penelitian yang dirubah ke dalam data angka dengan menggunakan koefisien korelasi produk momen, koefisien determinasi, dan analisis regresi linear. Sedangkan untuk persyaratan analisis data, peneliti menguji dengan menggunakan validitas data, realibilitas data, linearitas data dan normalitas data.
Dari teknik analisis data yang dipergunakan diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil analisis korelasi produk momen dapat dibuktikan bahwa pengaruh variabel Produk DPLK BNI Simponi dalam menggambarkan Kesejahteraan Nasabah pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat diketahui nilainya sudah di atas nilai kritis yang dipersyararkan dalam tabel analisis pengujian t dengan nilai korelasi 0,5508 yang berarti Produk DPLK BNI Simponi mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap jaminan kesejahteraan nasabahnya.
2. Berdasarkan analisis koefisien determinasi dapat dijelaskan bahwa tingkat pengaruh Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan Bni) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Jakarta Pusat adalah sebesar 30,25 % yang berarti ada pengaruh lain (epsilon) di luar variabel Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabahnya.
3. Berdasarkan hasil analisis regresi linear dapat dijelaskan bahwa antara variabel Produk DPLK BNI Sinponi dengan Jaminan Kesejahteraan Nasabah pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat berhubungan secara positif, dan bersifat linear dengan memenuhi persamaan Y = 24,77 + 0,44 X.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Produk DPLK BNI Simponi di Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat sebesar 30,25 % dan sisanya sebesar 69,75 % dipengaruhi oleh variabel epsilon. Atas hasil ini, peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian lanjutan agar diperoleh secara detail mengenai faktor – faktor apa saja yang sekiranya dapat meningkatkan Kesejahteraan Nasabah / Masyarakat. Salah satu faktor epsilon yang menurut peneliti harus ditindaklanjuti dalam pelaksanaan penelitian lanjutan adalah faktor penyuluhan para calon nasabah, kemudian penelitian mengenai studi komparasi dengan bank – bank lain di jakarta yang menjadi pesaing. Adanya peningkatan harga BBM harus diantisipasi, bila perlu pihak manajemen BNI melakukan survey jajak pendapat terhadap masyarkat / nasabah, karena peningkatan harga BBM akan berpengaruh pada kemampuan masyarakat / nasabah untuk menyisihkan sisa dari pendapatannya dengan cara menabung untuk hari purna bila pendapatan yang diterima cenderung tetap walaupun investasi – investasi yang ditanamkan oleh BNI yang dananya bersumber dari nasabahnya cenderung meningkatnya suku bunganya.














KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa dan junjungan Nabi Besar Muhammad SWT, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Untuk Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk”.
Adapun tujuan dari pada penyusunan skripsi ini, untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (STISIP) Yuppentek Jurusan Ilmu Administrasi Niaga / Bisnis.
Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan membantu baik moril dan materil, sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan. Dan peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Bapak Yayan Sopian, SH., M.Si, M.SDA selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.
2. Bapak H. AH. Sanwani, MM selaku ketua jurusan Administrasi Niaga STISIP YUPPENTEK Tangerang.
3. Bapak H. Usman Sumantri, Drs., M.Si selaku pembimbing metodologi dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Ridwan Pane, Drs., MM selaku pembimbing materi dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Andi, SE. selaku pimpinan kelompok DPLK BNI SIMPONI pada kantor Pusat Bank Negara Indonesia lantai 24 yang telah membantu dalam memberikan data-data yang diperlukan dalam pengumpulan data.
6. Kedua orang tua.
7. Feby Hardiyanti tercinta, yang selalu memberikan semangat, do’a, dan motivasinya kepada peneliti.
8. Teman-teman STISIP YUPPENTEK yang telah membantu memberikan support kepada peneliti untuk menyusun skripsi ini.
Karena keterbatasan wawasan, waktu, tenaga dan uang peneliti menyadari bahwa kehadiran skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan dalam penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata peneliti berharap semoga Allah SWT memberikan pahala berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini baik langsung maupun tidak langsung.

Tangerang, April 2009


R. CHANDRA PERMANA
Peneliti




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL PENELITIAN i HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ii
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI iii
ABSTRAK iv
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xiii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan 1
1.2 Indentifikasi Masalah 3
1.3 Pembatasan Masalah 5
1.4 Perumusan Masalah 5
1.5 Maksud Dan Tujuan Penelitian 6
1.6 Kegunaan Penelitian 6
1.7 Kerangka Berpikir 7
1.8 Hipotesis Penelitian 8

BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Administrasi Niaga 9
2.1.1 Perbedaan Ilmu Admnistrasi Niaga dengan Ilmu 12
Ekonomi
2.2 Pengertian Analisis 15
2.3 Pengertian Produk 15
2.3.1 Produk Baru 15
2.3.2 Bagaimanakah Menambah Kegunaan Produk 18
2.3.3 Siklus Kehidupan Produk 20
2.3.4 Sasaran Jangka Panjang 23
2.4 Pengertian SIMPONI / DPLK BNI 25
2.4.1 Pengertian Pensiun & Perusahaan Dana Pensiun 26
2.4.2 Tujuan Pensiun 28
2.4.3 Fungsi Program Pensiun 29
2.4.4 Manfaat Program Pensiun 31
2.4.5 Jenis-jenis Pensiun 32
2.4.6 Asas-asas Dana Pensiun 34
2.4.7 Iuran Dana Pensiun 36
2.4.8 Keuntungan Mengikuti Program Pensiun DPLK 39
2.4.9 Bagaimana Program Pensiun DPLK Dilaksanakan 40
2.5 Kesejahteraan 40

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian 43
3.2 Operasiaonal Variabel 45
3.3 Populasi & Sampel 47
3.3.1 Populasi 47
3.3.2 Sampel 48
3.4 Teknik & Alat Pengumpulan Data 49
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data 50
3.4.2 Alat Pengumpul Data 51
3.5 Teknik Analisis Data 52
3.6 Rancangan Hipotesis 55
3.7 Lokasi dan Jadual Penelitian 56

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Perusahaan 58
4.1.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank Negara Indonesia (Persero)
Tbk. 58
4.1.2 Sejarah Dana Pensiun BNI (SIMPONI) 60
4.1.3 Struktur Organisasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero)
Tbk. 61
4.1.4 Perkembangan Usaha PT. Bank Negara Indonesia (Persero)
Tbk. 66

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Data 67
5.2 Pengujian Persyaratan Analisis 72
5.3 Pengujian Hipotesis 80

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulam 87
6.2 Saran 88

DAFTAR PUSTAKA 91
LAMPIRAN – LAMPIRAN 93














DAFTAR TABEL

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Penelitian 46
Tabel 2. Jadual Waktu Pelaksanaan Penelitian 57
Tabel 3. Ukuran – ukuran Nilai Pusat Variabel Produk DPLK BNI Simponi 68
Tabel 4. Ukuran – ukuran Nilai Pusat Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah
71
Tabel 5. Hasil Analisis Item Variabel Produk DPLK BNI Simponi 74
Tabel. 6 Hasil Analisis Item Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah 75
Tabel 7. Hasil Pengujian Reliabilitas Data Variabel Penelitian 77
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Data 78
Tabel 9. Perbandingan t hitung dengan t tabel One Tail Test 81
Tabel 10. Hasil Perhitungan Analisis Regresi Linear 85
Tabel 11. Tabulasi Jawaban Responden Variabel Produk DPLK BNI Simponi 101
Tabel 12. Tabulasi Jawaban Responden Variabel Jaminan Kesejahteraan
Nasabah 103
Tabel 13. Lampiran Pengujian Reliabilitas Variabel Produk DPLK BNI
Simponi 105
Tabel 14. Lampiran Pengujian Reliabilitas Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah 107
Tabel 15. Lampiran Hasil Konversi Jawaban Responden 109
Tabel 16. Tabel Normalitas Data Variabel Produk DPLK BNI Simponi 111
Tabel 17. Tabel Normalitas Data Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah 111
Tabel 18. Tabel Hasil Perhitungan Linearitas Data 112





DAFTAR GAMBAR


Gambar 1. Siklus Kehidupan Produk 20
Gambar 2. Hubungan Variabel Penelitian 44
Gambar 3. Kelompok – kelompok Data Tanggapan Responden Untuk Variabel Produk DPLK BNI Simponi 69
Gambar 4. Kelompok – kelompok Data Tanggapan Responden Untuk Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah 72
Gambar 5. Hubungan Antara Variabel Produk DPLK BNI Simponi dengan Jaminan Kesejahteraan Nasabah dan Persamaan Garis Regresi Linear 84


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia secara berkesinambungan sejak muda sampai lanjut usia. Masyarakat Indonesia dikenal dengan masyarakat agraris. Dengan semakin berkembangnya dan bertumbuhnya perekonomian, struktur ekonomi yang berintikan kekuatan industri dengan dukungan sektor pertanian menjadi tujuan. Dengan begitu terjadi pergeseran era, yaitu “Era Agraris ke Era Industrial”.
Pergeseran ini tentunya menimbulkan pergeseran nilai kehidupan masyarakat serta pola hidup maupun tingkah laku, yang mengimplikasikan harapan akan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Setiap orang tidak hanya memikirkan kesejahteraan di saat bekerja tapi juga memikirkan kesejateraan di masa tua atau pensiun. Bergesernya pola kehidupan akibat globalisasi akan terus berlangsung. Di mana dahulu, orang tua kita merasakan bahwa sebagai balas budi, Anda sebagai anak harus menjaga dan menghidupi orang tua Anda di saat orang tua Anda tidak lagi produktif. Semua ini sudah semakin pudar. Ditambah lagi, Pemerintah Indonesia belum bisa memberikan jaminan hari tua kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah masuk masa pensiun, sehingga Anda sekarang haruslah bertanggung jawab terhadap kehidupan Anda sendiri, baik di masa produktif umumnya dan masa pensiun khususnya. Salah satu prasarana yang mutlak dibutuhkan adalah “jaminan hari tua” atau pensiun. Jaminan hari tua pada hakikatnya adalah memberikan kesejahteraan di hari tua dalam time frame lanjut usia, yang akan dinikmati oleh mereka yang saat ini masih muda. Wujud nyata dari jaminan hari tua adalah program pensiun, yang di Indonesia dikenal dengan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) atau Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK).
Masa pensiun adalah masa ketika orang tidak lagi bekerja dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan. Bagi karyawan pensiun adalah saat dia berusia 55 atau 60 tahun (tidak produktif), sedangkan bagi pengusaha, masa pensiun fleksibel. Biasanya pensiun diartikan sebagai saat di mana usaha yang dijalankan tidak lagi harus dijalankan oleh mereka. Mungkin bisa dijual atau diserahkan kepenerusnya. Dengan demikian dengan pensiun potensi pendapatan yang akan diterima jadi hilang. Padahal potensi pengeluaran cenderung tetap atau bahkan mungkin lebih banyak lagi. Itulah kenapa beberapa perusahaan menyelenggarakan program pensiun untuk para pekerjanya. Masa pensiun akan dialami setiap orang apa pun profesi dan pekerjaannya. Namun, mempersiapkannya agar terkumpul dana yang cukup adalah pilihan. Mau atau tidak.
Mungkin bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan bisa tersenyum karena di tempatnya bekerja disediakan program pensiun. Ya, dengan potongan tiap bulan setiap karyawan diberi jaminan akan mendapatkan uang pensiun, baik secara langsung atau sekaligus maupun secara rutin bulanan. Sistem pensiun yang dikelola oleh perusahaan tempat karyawan bekerja disebut dengan DPPK atau Dana Pensiun Pemberi Kerja. Perusahaan mengelola dana karyawan yang dikumpulkan tiap bulan untuk berkembang guna kepentingan karyawan saat pensiun kelak.
Saat ini Simponi (DPLK BNI) merupakan salah satu produk andalan Bank BNI untuk menghimpun fee based in come dan menggali dana jangka panjang. (SIMPONI DPLK BNI) mampu memberikan solusi pendapatan yang lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan di masa usia purna tugas. Dengan perencanaan pensiun yang terprogram dan terencana dengan baik maka akan mendapatkan kepastian kesejahteraan yang lebih baik pada saat masa pensiun tiba
Dari uraian tersebut diatas, penulis berusaha untuk mengangkat judul penelitian “Analisis Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Upaya Menggarmbarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk. Cabang Pusat, Jakarta.

1.2 Indentifikasi Masalah
Program DPLK (BNI SIMPONI) merupakan salah satu produk dari Bank BNI yang mengelola dana masyarakat untuk program pensiun tidak hanya pegawai swasta, negeri, TNI / Polri, BUMN,BUMD akan tetapi juga ditujukan bagi pengusaha dan profesional bisa mempersiapkan sendiri untuk mengikuti program pensiunnya. Saat ini DPLK BNI Simponi merupakan salah satu produk andalan Bank BNI untuk menghimpun fee based in come dan menggali dana jangka panjang. DPLK BNI Simponi mampu memberikan solusi pendapatan yang optimal untuk memenuhi kebutuhan dimasa usia purna tugas. Dengan perencanaan pensiun yang terprogram dan terencana dengan baik maka akan mendapatkan kepastian kesejahteraan yang lebih baik pada saat masa pensiun tiba. Disamping Simponi (DPLK BNI) merupakan produk Bank BNI yang mengelola dana masyarakat untuk program pensiun yang semakin hari semakin dikenal oleh masyarakat namun terjadi hambatan didalamnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti akan mengindentifikasikan masalah yang ada pada DPLK BNI Simponi Kantor Pusat Sudirman, yaitu sebagai berikut :
1. Adanya persaingan yang kompetitif antar penyedia program DPLK yang berada di wilayah Jakarta.
2. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang DPLK Khususnya BNI Simponi dalam hal ini menyangkut kesejahteraan di hari tua.
3. Keengganan masyarakat untuk bergabung menjadi peserta DPLK BNI Simponi.
4. Pemerintah bertanggung jawab dalam membangun kesejahteraan masyarakat yang optimal untuk mengatasi masalah ketidakamanan ekonomi: pendapatan rendah, pendapatan terhenti (misalnya PHK), lonjakan pengeluaran, kematian kepala keluarga secara mendadak dll.
1.3 Pembatasan Masalah
Karena adanya keterbatasan wawasan, waktu, tenaga, teori-teori, uang dan supaya penelitian dapat dilakukan secara lebih mendalam, maka tidak semua masalah akan diteliti. Untuk itu maka peneliti memberi batasan, variabel apa saja yang akan diteliti, serta bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain. Berdasarkan batasan masalah ini, maka selanjutnya dapat dirumuskan masalah penelitian. Agar pembahasan dalam penelitian tidak terlalu meluas, maka pembahasan dalam penelitian ini perlu dibatasi pada produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) dalam menggambarkan kesejahteraan nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk Cabang Pusat, Jakarta”.

1.4 Perumusan Masalah
Menyimak dari indentifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah diuraikan sebelumnya oleh peneliti, maka masalah - masalah yang ada akan dirumuskan, adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : “Bagaimanakah Pelaksanaan Analisis Produk DPLK BNI SIMPONI (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk Cabang Pusat, Jakarta ?”.


1.5 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud mengadakan penelitian untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (STISIP Yuppentek Tangerang) program studi Ilmu Administrasi jurusan Ilmu Administrasi Niaga / Bisnis dan memberikan gambaran tentang produk DPLK BNI Simponi Kantor Pusat Sudirman.

1.6 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian yang dibuat oleh peneliti ada dua, yakni kegunaan secara teoritis dan kegunaan secara praktis, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Kegunaan secara teoritis
Kegunaan adalah untuk melaksanakan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi yaitu bidang penelitian, dalam hal ini menyangkut bisnis didalam dunia Dana Pensiun untuk mensejahterakan masyarakat umum pada usia purna. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat mendayagunakan perguruan tinggi dalam memacu pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya, serta dapat mencetak sarjana sosial (S. Sos) yang bermutu di bidang ilmu administrasi niaga khususnya, serta sebagai motivator dan inovator pembangunan yang handal dan mampu memecahkan masalah serta berbagai problema nyata yang dihadapi dalam lingkungannya terlebih lagi dalam hal bidang kesejahteraan masyarakat umum. Peneliti juga mengharapkan penelitian ini berguna dan bermanfaat bagi kemajuan bagi pengembangan keilmuan.
b. Kegunaan secara praktis
Sebagai sarana untuk memperdalam wawasan dan pengalaman peneliti yang menyangkut tentang produk DPLK BNI Simponi yang diharapkan menjadi sumbangan pemikiran dan bahan evaluasi bagi perusahaan yang bersangkutan dengan memberikan solusi permasalahan yang dihadapi.

1.7 Kerangka Pemikiran
Produk DPLK BNI Simponi merupakan produk andalan PT. Bank Negara Indonesia yang menawarkan program pensiunan bagi masyarakat luas baik pegawai pegawai swasta, negeri, TNI / Polri, BUMN,BUMD maupun pengusaha dan profesional mereka semua bisa mengikuti program ini tanpa terkecuali. Program DPLK BNI Simponi ini khusus dipersembahkan untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat luas yang menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh keluarganya dimasa depan. Mampu memberikan solusi pendapatan yang lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan dimasa usia purna tugas, dengan perencanaan pensiun yang terprogram dan terencana dengan baik maka akan mendapatkan kepastian kesejahteraan yang lebih baik pada saat masa pensiun tiba.

1.8 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empirimis yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik. Dalam tataran teoritik (Sugiyono, 1999: 51).
Menurut Supartono (1999:41) mengatakan bahwa “Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi dan kebenarannya harus diuji secara empiris”.
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Arikunto, 2002 :64).
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peneliti merumuskan hipotesis penelitiannya, yaitu : “Terdapat Pengaruh Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk”.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Adminisrasi Niaga
Administrasi Niaga atau Ilmu Administrasi Bisnis atau Ilmu Business Administration adalah cabang ilmu Administrasi yang secara khas mempelajari Administrasi daripada dan yang terdapat di dalam Organisasi-organisasi Niaga atau Business Organisation, dengan pengertian, bahwa yang dimaksud dengan bisnis hanyalah bisnis yang mengejar laba (profit) atau yang mempergunakan laba sebagai indikator dari pada efisiensi operasinya dan sebagian besar atau terbesar daripada organisai-organisasi niaga tersebut merupakan perusahaan. (S. Prajudi Atmosudirdjo, 1982:13).
Hal ini perlu dipertegas oleh sebab bisnis terdiri atas bisnis tanpa laba / non profit business, yang tidak mengejar laba, seperti misalnya : rumah sakit, sekolah, universitas, dinas kebersihan kota, dinas pasar, dinas kesehatan rakyat, dan sebagainya. Dan bisnis komersial, commercial business, bisnis yang mengejar laba, baik yang dimiliki oleh swasta maupun yang dijalankan oleh badan usaha milik negara/daerah.
Menurut S. Prajudi Atmosudirdjo, (1982:15). Administrasi Niaga atau Business Administration adalah suatu pengertian yang mencangkup dua pengertian menjadi satu, yakni :

1. Administrasi Niaga adalah “administrasi” daripada suatu Organisasi Niaga secara keseluruhan; bilamana “organisasi niaga” tersebut merupakan perusahaan, maka “administrasi niaga” tersebut dijalankan oleh direksi daripada perusahaan.
2. Administrasi Niaga adalah “administrasi” yang mengejar tercapainya tujuan-tujuan yang bersifat keniagaan (business objective); dalam pengertian ini, maka “administrasi niaga” tersebut dijalankan oleh setiap manager dalam suatu “organisasi niaga”

Pendapat lain tentang Administrasi Niaga dikemukakan oleh Sondang P.Siagian, (2004:2), yang mengatakan bahwa :
Administrasi Niaga adalah keseluruhan kegiatan organisasi,mulai dari produksi barang dan jasa sampai tibanya barang atau jasa tertentu tersebut di tangan konsumen. Dalam dunia keniagaan ada dua macam jenis pokok industri yakni industri yang menghasilkan barang dan industri yang menghasilkan jasa. Dalam hubungan ini kiranya relevan untuk menekankan bahwa perkembangan administrasi sangat dinamis, misalnya dengan semakin pentingnya peranan suatu pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup seluruh rakyatnya. Maka adalah suatu hal yang lumrah bahwa pemerintah pun turut berkecimpung dalam kegiatan keniagaan. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai tipe dan bentuk Badan Usaha Milik Negara seperti perusahaan jawatan, perusahaan umum, dan perusahaan yang meskipun dikuasai dan dimiliki oleh negara, kegiatan - kegiatannya, motif bekerja dan struktur organisasi keseluruhannya bersifat keniagaan.

Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. (Sondang P.Siagian, 2004:2).
Administrasi dijalankan oleh Administrator menuaikan tugas, fungsi, dan pekerjaannya melakukan suatu rangkaian berbagai macam kegiatan-kegiatan administrasi. Administrator adalah istilah akademik dan bersifat nama genus. Di dalam praktek gelar daripada Administrator tersebut “Direksi”, “Direktur”, “Manager”, “Pemimpin”, “Kepala”, “Pengurus”, dan sebagainya. Administrator merupakan kunci daripada segala-galanya, yang menjadi penghubung antara pemilik dan karyawan, yang menjadi konvertor dan reaktor daripada ide-ide usaha atau bisnis menjadi operasi-operasi nyata yang membawa hasil-hasil nyata. (S. Prajudi Atmosudirdjo, 1982:161).
Niaga atau Perniagaan dalam bahasa inggris adalah business, atau di Indonesiakan menjadi bisnis, sedangkan dagang atau perdagangan adalah trade atau commerce bilamana dalam arti luas. Perdagangan merupakan salah satu cabang daripada bisnis. Cabang-cabang lain daripada niaga adalah perindustrian, pertanian, perhutanan, perikanan, pertambangan, perbankan, perasuransian, perkapalan atau pelayaran, permakelaran, kepariwisataan, perhotelan, pengangkutan, hiburan, pengangkutan, pertelkomunikasian, kerumahsakitan, dan sebagainya.
Pada umumnya niaga atau business bergerak didalam bidang, yakni:
1. Bisnis barang-barang
2. Niaga pelayanan jasa-jasa dan
3. Bisnis yang bersifat memberikan fasilitas-fasilitas belaka (misalnya, fasilitas parkir, WC Umum, dan sebagainya.
Bisnis pada umumnya adalah kegiatan-kegiatan yang teratur (memakai organisasi) dan kontinu melayani kebutuhan-kebutuhan umum sambil mencipta atau memperoleh pendapatan (income) dari pelayanan tersebut. Sebagaian besar atau terbesar daripada organisasi-organisasi niaga tersebut merupakan perusahaan yang diselenggarakan oleh suatu badan usaha atau pemerintah.
Niaga atau business dapat dirumuskan sebagai keseluruhan dari pada aktivitas-aktivitas yang teratur dan kontinue, berupa mengadakan barang-barang dan jasa serta fasilitas-fasilitas untuk dijual atau disewakan, dengan tujuan memperoleh pendapatan berupa laba (yakni omzet total dikurangi biaya total) yang sebesar-besarnya dari aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas-aktivitas niaga tersebut dijalankan dengan dan didalam perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan merupakan unit atau kesatuan organisasi Niagawan. (S. Prajudi Atmosudirdjo, 1982:112).

2.1.1 Perbedaan Ilmu Administrasi Niaga dengan Ilmu Ekonomi
Memang Ilmu Administrasi Niaga (Business Administration) itu tidak sama dengan Ilmu Ekonomi Perusahaan (Business Economics) walaupun dua-duanya membahas hal bisnis dan bagaimana niaga itu beroperasi. Banyak mata kuliahnya yang bersama judul, misalnya “Production Management”, akan tetapi Production Management dalam Ilmu Administrasi Niaga dibahas dari sudut pandang yang berbeda daripada dalam Ilmu Ekonomi Perusahaan. Ilmu Ekonomi Perusahaan membahasnya dari sudut analisa hukum perusahaan, hasil analisa teknik atau teknologi, namun titik berat pandangnnya adalah penyelenggaraan operasi produksi, pada analisa manejemennya, bagaimana memimpin penyelenggaraan produksi itu dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian semoga jelaslah perbedaan antara Business Administration dan Economics, terutama Business Economics, atau perbedaan antara Administrasi Niaga dan Ekonomi Perusahaan.
Ilmu Ekonomi Perusahaan menitikberatkan studinya pada masalah effisiensi perusahaan sebagai rumah tangga ekonomi.
Ilmu Administrasi Niaga menitikberatkan studinya pada masalah effisiensi kepengurusan dan penyelenggaraan daripada usaha perusahaan, termasuk urusan tata usaha, kesejahteraan personil, urusan logistik, urusan pergudangan, urusan perkemasan, dan sebagainya.
Perusahaan-perusahaan Konsultan ekonomi dan perusahaan -perusahaan medium dan besar yang menghadapi masalah-masalah ekonomi yang berat, sangat memerlukan tenaga-tenaga Sarjana Ekonomi Perusahaan untuk bagian Analisa dan Research, yang tidak mungkin dapat dikerjakan oleh Sarjana Administrasi Niaga. Akan tetapi, misalnya untuk analisa penjualan dalam arti strategi, policy dan teknik, untuk analisa pelayanan (service) dari segi O & M (Organisasi dan Metode), untuk analisa transportasi barang antar gudang, untuk analisa personil perusahaan, dan sebagainya jelas diperlukan tenaga-tenaga Sarjana Administrasi.
Bagi masyarakat ramai yang banyak diperlukan adalah tenaga-tenaga administrasi niaga yang praktis dan dapat bekerja di perusahaan - perusahaan dan badan-badan sosial, menyelenggarakan berbagal pekerjaan administrasi untuk membantu Pimpinan. "Pekerjaan administrasi" di sini berarti pekerjaan organisasi (mengatur, menata, menertibkan, mensistematisir, membagi tempat, kerja, tenaga, dan waktu), pekerjaan tata usaha (registrasi, inventarisasi, kearsipan dan dokumentasi, korespondensi, pengolahan data informasi, komunikasi), dan pekerjaan pengelolaan (perencanaan pekerjaan, perencanaan hari-minggu-bulan kerja, memimpin kerja, mengawasi dan mengamati pekerjaan-pekerjaan, membayar gaji, upah, rekening dan sebagainya). Oleh karena itu, menurut pendapat saya, perubahan nama dari Sekolah Menengah Dagang dulu menjadi Sekolah Menengah Ekonomi (Pertama dan Atas) adalah keliru.
Masyarakat Indonesia lebih memerlukan tenaga-tenaga lulusan Sekolah Menengah Niaga atau Kommers (Commerce) daripada tenagatenaga Sekolah Menengah Ekonomi yang terlalu bersifat abstrak bagi para siswanya, kurang dekat kepada realitas kehidupan niaga sehari-hari yang lebih banyak memerlukan tenaga-tenaga juru-jual (verkopers, handelsreizigers, salesmen), pembukuan dan akunting (accounting, moderne boekhouding) korespondensi niaga (bussiness correspondence), juru-gudang (magazijnmeester), ahli mengenal barang (warenkenners), makelar (ahli jual-beli barang dagangan untuk pihak ketiga) dan sebagainya daripada siswa-siswa yang terlalu banyak teori-teori ekonomi yang muluk-muluk yang di dalam praktek toh hanya akan mendatangkan frustasi dan kekecewaan belaka. Untuk memimpin tenaga-tenaga menengah niaga tersebut di atas diperlukan pendidikan Ilmu Administrasi Niaga, dan Ilmu Ekonomi Perusahaan, dan Ilmu Teknik untuk Perusahaan, dan Ilmu Hukum Perusahaan.
2.2 Pengertian Analisis
Analisis merupakan kemampuan untuk mengindentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa, atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi.
Menurut Peter Salim dan Yenny Salim (1997:61),
Analisis adalah menguji dan mengamati apakah sesuatu hal bisa menghasilkan sesuatu dengan berdasarkan pada nilai-nilai yang akan diamati. Dengan kata lain analisis adalah proses pemecahan masalah ke dalam bagian-bagiannya berdasarkan metode konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip-prinsip dasarnya.

2.3 Pengertian Produk
2.3.1 Apakah yang dikatakan dengan produk?
A product is a set of tangible and intangible atribus, including packaging, color, price, manufacturer’s prestige and manufacturer’s and retailer, which the buyer may accept as offering want satisfication (W.J. Stanton, 1981:192).
Yang dikatakan produk ialah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, termasuk didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual (pengecer), dan pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli guna memuaskan keinginannya.
Kotler menyatakan “A product is anything that can be offered to a market to satisfy a want or need. Product that are marketed include physical goods, services, experiences, events, persons, places, properties, organizations, information and ideas (Kotler, 2000:294)
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk terdiri atas barang, jasa, pengalaan, events, koran, tempat, kepemilkan, organisasi, informasi, dan ide. Jadi produk itu bukan hanya berbentuk sesuatu yang berwujud saja, seperti makanan, pakaian, dan sebagainya, akan tetapi juga sesuatu yang tidak berwujud seperti pelayanan jasa. Semua diperuntukan bagi pemuasan kebutuhan dan keinginan (need and wants) dari konsumen. Konsumen tidak hanya membeli produk sekedar memuaskan kebutuhan (need), akan tetapi juga bertujuan memuaskan keinginan (wants). Misalnya membeli bentuk sepatu, daya, warna, merek, dan harga menimbulkan / mengangkat prestise. Oleh karena itu produsen harus memperhatikan secara hati-hati kebijakan produknya. Jika digambarkan sebuah produk itu memiliki beberapa lapisan. Kombinasi dari beberapa bagian lapisan itu akan mencerminkan suatu produk. Apabila seseorang membutuhkan suatu produk, maka terbayang lebih dahulu ialah manfaat produk, setelah itu baru mempertimbangkan faktor-faktor lain diluar manfaat. Faktor-faktor itulah yang membuat konsumen mengambil keputusan membeli atau tidak.
Suatu tantangan paling besar dihadapi oleh setiap perusahaan adalah masalah pengembangan produk. Pengembangan produk dapat dilakukan oleh personalia dalam perusahaan dengan cara mengembangkan produk yang sudah ada. Dan dapat pula menyewa para peneliti guna menciptakan produk baru dengan model-model yang sesuai. Perusahaan yang tidak mengadakan penurunan volume penjualan, karena munculnya pesaing yang lebih kreatif adanya perubahan selera konsumen, munculnya teknologi baru dalam proses produksi.
Produk Baru Apakah yang dkatakan produk baru. Sebuah produk baru memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Produk tersebut betul-betul merupakan hasil inovasi baru. Namun ada juga produk baru yang fungsinya sama dengan produk yang sudah ada seperti televisi fungsinya sama dengan radio dan bioskop, plastik meyaingi barang dari kayu dan metal.
b. Pengganti produk lama, tapi berbeda pemakaiannya, seperti instant coffe mengganti kopi yang biasa. Mobil model tahun terbaru berbeda dengan model lama, demikian pakaian model baru mengalahkan pakaian lama.
c. Produk imitasi adalah barang baru bagi perusahaan tertentu tapi bukan baru bagi masyarakat.
Sebagai kesimpulan, apakah suatu produk itu produk baru atau bukan sangat tergantung pada tanggapan masyarakat / konsumen. Jika konsumen menyatakan bahwa produk itu memang berbeda dengan barang yang sudah ada dipasar, maka produk itu adalah produk baru (misalnya berbeda karena daya tarik , model, penampilan).



2.3.2 Bagaimanakah Menambah Kegunaan Produk
Produk yang dihasilkan oleh Perusahaan harus diciptakan agar penggunaannya lebih bervariasi dengan cara:
a. Menciptakan tambahan penggunaan dari produk yang sudah ada seperti sabun cuci, yang biasanya dipakai untuk cuci pakaian, sekarang diciptakan agar bisa pula dipergunakan untuk cuci piring, cuci lantai, mobil dsb. Dengan demikian volume penjualan akan meningkat Penggunaan plastik sudah maju, dalam hal ini plastik digunakan bermacam-macam keperluan, seperti mulai dari pembungkus, perabotan tumah tangga, sampai kepada onderdil motor, mobil, bahkan pesawat terbang.
b. Produk yang biasanya dijual untuk kaum wanita, sekarang dipasarkan buat kaum pria, seperti alat-alat kecantikan, sekarang dibeli kaum pria; susu bubuk buat anak-anak, juga bisa dipakai dewasa, sabun bayi juga bagus untuk Ibu / Bapak dan sebagainya.
c. Digunakan dalam hubungan bersamaan dengan produk lain, misalnya pemasaran kain pel, dikombinasikan dengan pemasaran cairan pembersih.
d. Biasa digunakan untuk industri - industri baru, jika suatu perusahaan berdiri, maka bisa pula berdiri perusahaan baru yang mempergunakan hasil industri perusahaan lama.
Dengan demikian usaha menciptakan produk baru sejalan dengan strategi perluasan pasar melalui :
a. Pencarian pemakai baru. Setup produk mempunyai segmentasi pasarnya, produk dengan mutu tertentu mcmiliki pemakai tersendiri. Mungkin saja sebuah produk belum dibeli oleh sekelompok masyarakat, karena harganya tinggi. belum dikenal dan sebagainya. Para pengusaha harus menciptakan harga, mutu atau formula yang digunakan sehingga sesuai dengan lingkungan yang dituju. Akhirnya produk yang sudah dikembangkan tersebut dapat mencapai pemakai baru, misalnya pada sabun bayi yang dapat pula digunakan oleh orang tuanya.
b. Menciptakan pemakaian baru, misalnya sabun cuci disamping untuk mencuci dapat pula dipakai untuk lantai, mobil dan sebagainya. Alat semprot serangga, sekarang dapat digunakan dirumah untuk nyamuk.
c. Memperluas pemakaian, dengan cara memberi petunjuk konsumen, agar produk ini digunakan seringkali. Pada tiap pcnggunaan harus digunakan lebih banyak, misalnya menggunakan pasta gigi, harus digunakan sesuai dengan iklan di televisi, dioleskan diatas sikat gigi penuh dan banyak, memakai shampoo belum akan efektif hanya satu kali, tapi harus dua kali agar rambut betul-betul bersih.


2.3.3 SIklus Kehidupan Produk
Siklus kehidupan produk ini terdiri atas 5 tingkatan :
1. Tahap Introduksi (introduction)
2. Tahap Pengembangan (growth)
3. Tahap Kematangan (maturity)
4. Tahap Menurun (decline)
5. Tahap Ditinggalkan (abandonmen)
Jangka waktu tiap tahap ini berbeda-beda pada setiap macam barang dapat diukur dengan mingguan, ataupun bulanan, tahunan atau puluhan tahun. Seperti model pakaian, yang dinamakan fad (model yang tidak tahan lama) dengan cepat akan hilang dipasar. Tapi model mobil yang sanggup bertahan lama.







Perkenalan Pertumbuhan Kematangan Jenuh Menurun
Gambar 1
Stanton (1981:217)
Pada Permulaan produk diperkenalkan kepasar. Penjualan masih rendah karena pasar belum mengenal barang tersebut. Disini perlu dilancarkan promosi. Kemudia setelah konsumen kenal maka akan banyak orang membeli, pasaran makin luas, volume meningkat cepat sekali (growth). Dalam keadaan ini, pengusaha harus menyebarluaskan barang-barangnya, dan mengisi semua toko yang mungkin dapat menjual produknya. Produsen melalui distributor melaksanakan sell-in yaitu mengisi semua rak-rak toko sebanyak-banyaknya kemudian melakukan sell-out melalui media iklan agar barang-barang yang dirak dibeli / ditarik keluar oleh pembeli. Namun kemudian pasar menjadi jenuh dan timbul masa maturity. Konsumen mulai merasa bosan, dan menunggu produk baru lagi. Dalam keadaan ini, pengusaha harus mencoba merubah product design dan merubah disain pembungkus, atau memperbaiki mutu produk menjadi produk yang super, lebih putih, lebih bermutu, agar konsumen tidak jenuh. Juga dilakukan strategi membuat produk ukuran besar. Ukuran jumbo, agar kuantitas terjual cukup besar, Jika strategi ini tidak berhasil, maka akan timbul masa penurunan (decline), omzet penjualan mulai menurun, suatu tindakan penyelamatan, mengurangi jumlah produksi, mengurangi biaya, penghematan-penghematan, mengurangi jumlah produksi, mengurangi biaya penghematan-penghematan di segala bidang, perlu segera diambil, untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangrutan. Akhirnya jika semua tidak dapat diatasi maka produk tersebut akan ditinggalkan oleh konsumen dan produknya hilang dari pasaran.
Begitu pula dengan manusia seperti roda yang senantiasa berputar, itulah barangkali siklus manusia pekerja. Saat berada di bawah tanpa kenal lelah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan untuk mencapai "puncak kesuksesan". Namun harus juga disadari, ketika berada di atas harus siap-siap untuk turun kembali ke bawah. Sayangnya, waktu dan usia sudah tidak memungkinkan lagi untuk menjadi pekerja keras dan kembali ke posisi di atas. Artinya sampai batas usia tertentu, manusia pekerja harus istirahat dan menikmati masa pensiunnya. Timbul persoalan saat menghadapi masa pensiun, karena sudah pasti penghasilan yang diperoleh akan jauh menurun ketimbang saat masih aktif sebagai pekerja. Sementara bagi pekerja swasta, justru harus menerima kenyataan bahwa penghasilan rutinnya akan berhenti. Ada sedikit harapan bagi mereka yang berstatus pegawai negeri, karena masih memiliki program Jamsostek dan atau Tunjangan Pensiun sebagai Jaminan Hari Tua. Ironisnya, keinginan untuk mempersiapkan masa pensiun, biasanya baru muncul setelah adanya penawaran dari perusahaan atau adanya iklan di berbagai media massa tentang manfaat program pensiun. Padahal, harus disadari bahwa setiap pekerja sesungguhnya membutuhkan program pensiun sebagai jaminan kelak ketika sudah tidak mendapatkan penghasilan rutin lagi akibat sudah tidak bekerja lagi alias pensiun.



2.3.4 Sasaran Jangka Panjang
Sasaran jangka panjang mewakili hasil yang diharapkan dari menjalankan strategi tertentu strategi merupakan tindakan yang diambil untuk mewujudkan sasaran jangka panjang. Kerangka waktu untuk sasaran dan strategi harus konsisten, biasanya dari lima sampai dua puluh lima tahun. Sifat sasaran jangka panjang sasaran harus kuantitatif, dapat diukur, realistik, dapat dipahami, menantang, mempunyai hierarki, dapat dicapai, dan serasi diantara unit-unit organisasi. Masing-masing sasaran harus juga berkaitan dengan garis waktu.
Sasaran biasanya dinyatakan dalam istilah seperti pertumbuhan dalam asset, pertumbuhan dalam penjualan, profitabilitas, pangsa pasar, tingkat dan sifat diversifikasi, tingkat dan sifat dari integrasi vertikal, hasil per saham, dan tanggung jawab sosial. Sasaran yang dibuat dengan jelas menawarkan banyak manfaat. Sasaran seperti itu menyediakan arah, memungkinkan sinergi, membantu dalam evaluasi, menetapkan prioritas, mengurangi ketidakpastian, meminimalkan konflik, merancang usaha, dan membantu alokasi sumber daya serta desain pekerjaan. Sasaran jangka panjang diperlukan di tingkat korporasi, divisi, dan fungsional dalam suatu organisasi. Sasaran ini merupakan ukuran yang penting bagi prestasi kerja manajerial. Banyak praktisi dan akademisi menyatakan menurunnya daya saing industri A.S, terutama disebabkan manajer di Amerika Serikat lebih berorientasi pada strategi jangka pendek ketimbang jangka panjang. Arthur D. Little menyatakan bahwa bonus untuk para manajer dewasa ini lebih didasarkan pada sasaran dan strategi jangka panjang. Kerangka kerja umum untuk menghubungkan sasaran dengan evaluasi prestasi kerja organisasi dapat menyesuaikan pedoman ini agar sesuai dengan kebutuhannya sendiri, tetapi insentif harus dikaitkan dengan sasaran jangka panjang dan tahunan.
Sasaran yang dinyatakan dengan jelas dan dikomunikasikan amat penting untuk sukses banyak alasan. Pertama, sasaran membantu pihak yang berkepentingan memahami mereka dalam masa depan suatu organisasi. Sasaran juga menjadi dasar untuk pembuatan keputusan yang konsisten oleh manajer yang menganut nilai-nilai dan mempunyai sikap berbeda. Dengan mencapai konsensus pada sasaran dalam aktivitas perumusan strategi, sebuah organisasi dapat meminimalkan konflik yang berpotensi terjadi selama implementasi. Sasaran menetapkan prioritas organisasi dan merangsang usaha serta mencapai hasil. Sasaran dapat dipakai sebagai standar untuk mengevaluasi aktivitas individu, kelompok, departemen, divisi, organisasi. Sasaran berfungsi sebagai dasar untuk mendesain pekerjaan dari aktivitas mengorganisasikan yang akan dilakukan dalam sebuah organisasi. Sasaran juga dipakai untuk menentukan arah dan adanya sinergi. Tanpa sasaran jangka panjang, sebuah organisasi akan terseret tanpa daya ke arah akhir yang tidak diketahui Sulit untuk membayangkan sebuah organisasi atau individu sukses tanpa yang jelas. Sukses jarang dicapai secara kebetulan sebaliknya, sukses merupakan hasil kerja keras yang diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu.
2.4 Pengertian SIMPONI / DPLK BNI
SIMPONI (Simpanan Pensiun Bank BNI) adalah layanan pengelolaan simpanan untuk program pensiun yang diselenggarakan oleh Dana Pensiun Lembaga Keuangan BNI (DPLK BNI), yang khusus dipersembahkan untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat luas yang menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh keluarganya dimasa depan. Salah satu produk DPLK yang bisa menjadi pilihan adalah Simponi dari Bank BNI. Berbentuk tabungan, simpanan khusus ini memiliki perbedaan dengan produk simpanan umumnya di bank BNI. Dengan bunga yang lebih tinggi dan bebas pajak, produk ini diharapkan bisa memberikan hasil maksimal kepada nasabahnya. Untuk Anda yang ingin memulai, produk ini bisa dimasuki dengan iuran mulai dari Rp50.000. Dengan angka sebesar itu, Anda dijanjikan akan memperoleh sejumlah dana pada saat pensiun yaitu usia 56 tahun dan terus berlaku seumur hidup. Dan bagusnya lagi bila si penerima manfaat meninggal, manfaat pensiunnya bisa dialihkan ke istri sampai seumur hidup juga atau menikah lagi, dan kepada anak sampai dengan usia 25 tahun atau menikah. Produk ini hampir sama dengan tabungan, peserta bisa melakukan penyetoran berkali-kali pada bulan yang sama tapi minimal harus satu kali per bulan. Kelebihan lain adalah dimungkinnya Anda mengambil manfaat pensiun tersebut sebelum masa pensiun datang atau biasa disebut dengan pensiun dipercepat. Waktunya 10 tahun sebelum masa pensiun yang disepakati. Namun, tentu saja hasil bulanannya kelak tidak setinggi kalau diambil saat masa pensiun tiba. Bisa dimiliki oleh individu; yang berarti pengusaha maupun karyawan yang merasa perlu menambah uang pensiunnya bisa ikut serta. Atau kalau Anda memiliki teman seprofesi atau teman main juga bisa. Jadi tidak harus tergabung dalam satu wadah perusahaan. Biaya lainnya juga cukup murah. Biaya administrasi Rp18.000 per tahun dan fee kelolaan 0,85% per tahun dari jumlah dana yang mereka kelola.

2.4.1 Pengertian Pensiun Dan Perusahan Dana Pensiun
Pengertian perusahaan dana pensiun secara umum dapat dikatakan merupakan perusahaan yang memungut dana dari karyawan suatu perusahaan dan memberikan pendapatan kepada peserta pensiun sesuai perjanjian. Artinya dana pensiun dikelola oleh suatu lembaga dan memungut dana dari pendapatan para karyawan suatu perusahaan, kemudian membayarkan kembali dana tersebut dalam bentuk pensiun setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian antara kedua belah pihak. Pensiun dapat diberikan pada saat karyawan tersebut sudah memasuki usia pensiun atau ada sebab-sebab lain sehingga memperoleh hak untuk mendapatkan dana pensiun. Sedangkan menurut UU Nomor 11 tahun 1992 dana pensiun adalah “Badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun”. Dengan demikian jelas bahwa yang mengelola dana pensiun adalah perusahaan yang memiliki badan hukum seperti bank umum atau asuransi jiwa. Selanjutnya pengertian pensiun adalah hak seseorang untuk memperoleh penghasilan setelah bekerja sekian tahun dan sudah memasuki usia pensiun atau ada sebab-sebab lain sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Penghasilan dalam hal ini biasanya diberikan dalam bentuk uang dan besarnya tergantung dari peraturan yang ditetapkan. Jadi kegiatan perusahaan dana pensiun adalah memungut dana dari iuran yang dipotong dari pendapatan karyawan suatu perusahaan swasta, negeri, TNI / Polri, BUMN,BUMD maupun pengusaha dan profesioanal. Iuran ini kemudian diinvestasikan lagi ke dalam berbagai kegiatan usaha yang dianggap paling menguntungkan. Bagi perusahaan dana pensiun iuran yang dipungut dari para karyawan suatu perusahaan tidak dikenakan pajak. Hal ini dilakukan pemerintah dalam rangka pengembangan program pensiun kepada masyarakat luas, seperti yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan dibidang perpajakan yang memberikan fasilitas penundaan pajak penghasilan seperti dalam undang-undang no. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan yang berbunyi: “Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang disetujui menteri keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun oleh karyawan dan penghasilan dana pensiun dari modal yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu berdasarkan keputusan menteri keuangan tidak termasuk dari objek pajak”.
 Apakah ada fasilitas pajak yang diberikan oleh pemerintah? Ada yaitu:
Dengan menjadi peserta program Simponi DPLK BNI peserta akan memperoleh fasilitas pajak antara lain:
• Selama dana peserta dikelola oleh DPLK BNI hasil pengembangan nya tidak kena pajak.
• Pembayaran iuran dari perusahaan dapat mengurangi pajak penghasilan badan (PPh 25) sebatas perusahaan telah melaporkan dikantor pajak setempat.
• Pembayaran iuran dari pegawai dapat mengurangi pajak penghasilan pegawai yang bersangkutan (PPh 21) sebatas perusahaan tersebut telah melaporkan pegawainya dikantor pajak setempat.
 Pada saat kapan peserta program SIMPONI DPLK BNI dikenakan pajak? Yaitu pada saat:
• Penarikan iuran 10% dari akumulasi iuran aktif
• Penutupan rekening peserta tidak aktif
• Peserta memasuki pensiun ditunda/penarikan total akumulasi iuran
• Peserta telah memasuki pensiun normal, dipercepat, meninggal dan cacat.


2..4.2 Tujuan Pensiun
Seiring dengan perkembangan zaman. Dewasa ini pelaksanaan program pensiun atau harapan untuk memperoleh pensiun dihubungkan dengan berbagai tujuan. Masing-masing tujuan memiliki maksud tersendiri, baik bagi penerima pensiun maupun bagi penyelenggara pensiun.
Tujuan menjadi peserta program simponi masa pensiun menjadi masa yang paling menyenangkan adalah sebagai berikut:
1. Masa pensiun dapat dipersiapkan dan direncanakan sejak dini.
2. Masa depan anda bersama keluarga terjamin kesejahteraannya dan menikmati masa depan yang tentram, damai, dan sentosa.
3. Peserta bersama keluarga dapat menikmati masa depan dengan tenang tanpa harus tergantung pihak lain.
Sedangkan bagi peserta yang menerima pensiun, manfaat yang diperoleh dengan adanya pensiun adalah:
1. Kepastian memperoleh penghasilan dimasa yang akan datang sesudah masa pensiun,
2. Memberikan rasa aman dan dapat meningkatkan motivasi untuk bekerja.
Selanjutnya bagi Lembaga Pengelola Dana Pensiun tujuan penyelenggaraan dana pensiun adalah:
1. Mengelola dana pensiun untuk memperoleh keuntungan dengan melakukan berbagai kegiatan investasi.
2. Turut membantu dan mendukung program pemerintah .

2.4.3 Fungsi Program Pensiun
Pada dasarnya program pensiun memiliki 3 fungsi, meliputi: fungsi asuransi, fungsi tabungan dan fungsi pensiun. Program pensiun memiliki fungsi asuransi karena memberikan jaminan kepada peserta untuk mengatasi risiko kehilangan pendapatan yang disebabkan oleh kematian atau usia pensiun. Program pensiun memiliki fungsi tabungan, karena selama masa program Anda diharuskan untuk membayar iuran. Dan program pensiun memiliki fungsi pensiun, karena manfaat yang akan diterima oleh peserta dapat dilakukan secara berkala selama hidup.
Fungsi Asuransi. Penyelenggara Program Pensiun mengandung azas kebersamaan seperti halnya program asuransi. Sebagai contoh, bila peserta program pensiun mengalami musibah, baik cacat ataupun meninggal dunia, yang mengakibatkan terputusnya pendapatan sebelum memasuki masa pensiun maka kepada peserta tersebut akan diberikan manfaat sebesar yang Dijanjikan atas beban dana pensiun yang telah ditetapkansebelumnya.
Fungsi Tabungan. Karena progran pensiun bertugas untuk mengumpulkan dan mengembangkan dana yang merupakan dana terakumulasi dari iuran peserta, di mana iuran tersebut diperlakukan seperti halnya tabungan. Selanjutnya iuran tersebut akan dikelola dan dikembangkan, yang nantinya di saat pensiun atau di akhir masa program, dana yang terkumpul akan digunakan untuk membayar manfaat pensiun peserta. Besarnya manfaat yang diterima oleh peserta sangat bergantung dengan akumulasi dana yang disetor dan hasil pengembangan dari iuran tersebut. Tentunya dengan semakin panjang waktu kepesertaan akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan dana setoran iuran peserta.
Fungsi Pensiun. Peserta akan diberikan kelangsungan pendapatan dalam bentuk pembayaran secara berkala seumur hidup setelah memasuki masa pensiun. Terdapat empat cara pembayaran manfaat pensiun. Pertama, pensiun normal, artinya pembayaran hak pensiun setelah mencapai usia pensiun normal sesuai perjanjian. Kedua, pensiun dipercepat, artinya pembayaran hak pensiun minimal 10 tahun sebelum mencapai usia pensiun normal. Ketiga, pensiun ditunda, artinya pembayaran hak pensiun yang ditunda apabila berhenti bekerja minimal 3 tahun masa kepesertaan dan belum mencapai pensiun dipercepat. Keempat, pensiun cacat, artinya pembayaran hak pensiun bagi yang menderita cacat total (tetap) akibat kecelakaan kerja.

2.4.4 Manfaat Program Pensiun
Bila dilihat dari ciri-ciri serta program pensiun itu sendiri terdapat beberapa manfaat atau keuntungan dari program ini. Bagi Anda peserta DPLK terdapat beberapa manfaat, yaitu:
1. Adanya kepastian dana pensiun
2. Iuran dan hasil pengembangan dana diperuntukan bagi peserta.
3. Dalam program ini peserta dapat :
a. Menentukan sendiri sasaran untuk investasi dananya.
b. Memperoleh keuntungan yang maksimal dengan meminimalisasi risiko yang mungkin ada dalam pilihan investasi (diversifikasi)
c. Selalu memonitor besarnya manfaat pensiun
d. Menentukan sendiri besar kecilnya iuran yang akan dilakukan selama masa program
4. Pembayaran iuran dapat dilakuan secara tidak teratur
5. Merupakan satu-satunya produk hari tua yang sangat transparan

2.4.5 Jenis-Jenis Pensiun
Proses pelaksanaan pensiun dapat dilaksanakan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan. Para penerima pensiun dapat memilih salah satu dari berbagai alternatif jenis pensiun yang ada sesuai dengan tujuan masing-masing. Jenis-jenis pensiun yang ditawarkan dilihat dari berbagai kondisi atau dapat pula disesuaikan dengan kondisi yang ada. Secara umum jenis pensiun yang dapat dipilih oleh karyawan yang akan menghadapi pensiun antara lain:
1. Pensiun Normal
Manfaat pensiun yang diberikan kepada peserta pada saat pesrta telah mencapai usia pensiun normal. Sesuai dengan usia pensiun yang telah ditetapkan oleh peserta pada saat pendaftaraan.
2. Pensiun dipercepat
Manfaat pensiun yang diberikan kepada peserta pada saat peserta berusia minimal 10 (sepuluh) tahun sebelum usia pensiun normal dan berniat berhenti dari kepesertaannya.
3. Pensiun ditunda
Manfaat pensiun yang diberikan kepada peserta yang berhenti dari kepesertaannya sebelum usia pensiun dipercepat.
4. Pensiun meninggal
Manfaat pensiun yang diberikan kepada janda/duda atau ahli waris, apabila peserta meninggal dunia.
5. Pensiun cacat
Manfaat pensiun yang dibayarkan kepada peserta, apabila peserta mengalami cacat tetap dan tidak dapat melanjutkan kepesertaannya.
Menurut Undang - undang Nomor 11 tahun 1992, dana pensiun dapat digolongkan kedalam beberapa jenis yaitu :
Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)
Jadi pengolahan dana pensiun dapat dilakukan oleh pemberi kerja (DPPK) atau lembaga keunan (DPLK). Perusahaan mempuyai beberapa alternatif. Alternatif ini disesuaikan dengan tujuan perusahaan tanpa menghilangkan hak karyawannya. Alternatif yang dapat dipilih tersebut antara lain :
1. Mendirikan sendiri dana pensiun bagi karyawannya.
2. Mengikuti program pensiun yang diselenggarakan oleh dana pensiun lembaga keuangan lain.
3. Bergabung dengan dana pensiun yang didirikan oleh pemberi kerja lain atau.
4. Mendirikan dana pensiun secara bersama-sama dengan pemberi kerja lainnya.
Selanjutnya penyelenggaraan dana pensiun lembaga keuangan dapat pula dilakukan oleh bank umum atau asuransi jiwa setelah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan (DPLK).
Menurut ketentuan diatas program pensiun yang dapat dijalankan adalah :
1. Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP)
Merupakan program pensiun yang besarnya manfaat pensiun ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Seluruh iuran merupakan beban karyawan yang dipotong dari gajinya.
2. Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)
Besarnya manfaat pensiun tergantung dari hasil pengembangan kekayaan dana pensiun. Iuran ditanggung bersama oleh karyawan dan perusahaan.

2.4.6 Asas – Asas Dana Pensiun
Berdasarkan Undang-undang No. 11 tahun 1992. Penyelenggaraan program pensiun didasarkan pada asas-asas sebagai berikut :
1. Asas keterpisahan kekayaan oleh badan hukum tersendiri dan diurus serta dikelola berdasarkan ketentuan undang-undang. Berdasarkan asas ini kekayaan dana pensiun yang terutama bersumber dari iuran terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat terjadi pada pendiriannya.
2. Asas penyelenggaraan dalam sistem pendanaan.
Penyelenggaraan program pensiun berdasarkan asas ini baik bagi karyawan maupun bagi pekerja mandiri, haruslah dengan penumpukan dana yang dikelola secara terpisah dari kekayaan pendiri, sehingga cukup memenuhi pembayaran hak peserta. Dengan demikian pembentukan cadangan dalam perusahaan guna membiayai pembayaran manfaat pensiun karyawan tidak diperkenankan.
3. Asas pembinaan dan pengawasan.
Agar terhindarkan penggunaan kekayaan dana pensiun dari kepentingan-kepentingan yang dapat mengakibatkan tidak tercapainya maksud utama penumpukan dana yaitu untuk memenuhi hak peserta, maka perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. Pembinaan dan pengawasan meliputi sistem pendanaan dan pengawasan atas investasi kekayaan dana pensiun.
4. Asas penundaan manfaat.
Penyelenggaraan program dana pensiun dimaksudkan agar kesinambungan penghasilan yang menjadi hak peserta, maka berlaku asas penundaan manfaat yang mengharuskan pembayaran hak peserta hanya dapat dilakukan setelah peserta pensiun yang pembayarannya dilakukan secara berkala.
5. Asas kebebasan untuk membentuk atau tidak membentuk dana pensiun.
Pembentukan dana pensiun atas prakarsa pemberi kerja untuk menjanjikan manfaat pensiun. Konsekuensi pendanaan dan pembiayaan merupakan suatu komitmen yang harus dilakukan sampai dengan pada saat dana pensiun terpaksa dibubarkan.

2.4.7 Iuran Dana Pensiun
Berdasarkan Undang-undang No.11 Tahun 1992 penyelenggaraan dan bentuk program dana pensiun dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: Program Pensiun Manfaat Pasti (Defined Benefit), yang dilakukan oleh Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Program Pensiun Iuran Pasti (Defined Contribution) yang dilakukan oleh DPLK dan DPPK.
Sedangkan iuran dana pensiun dapat dilakukan oleh Anda sendiri (individu) dan hanya dapat dilakukan di DPLK. Sedangkan iuran yang dilakukan oleh pemberi kerja dan peserta maupun hanya pemberi kerja saja yang mengeluarkan iuran dapat dilakukan di DPPK maupun DPLK.
Secara prinsip terdapat perbedaan antara Program Pensiun Manfaat pasti dan Program Pensiun Iuran Pasti. Perbedaan tersebut adalah:
1. Program Pensiun Manfaat Pasti (Defined Benefit)
a. Manfaat Pensiun ditentukan lebih dahulu, baru kemudian diperhitungkan besar iurannya.
b. Mengenal Past Service Liabilities (PSL)
c. Ada perhitungan aktuaria.
2. Program Pensiun Iuran Pasti (Defined Contribution)
a. Iuran ditentukan lebih dahulu baru dihitung manfaatnya.
b. Pada saat pensiun atau diakhir program, dana yang terkumpul
akan dibelikan anuitas seumur hidup ke Perusahaan Asuransi
Jiwa.
Mungkin timbul pertanyaan, misalkan ada seorang peserta DPLK, yang karena sesuatu hal, terkena PHK atau sakit, sehingga tidak mampu lagi untuk membayar iuran yang telah ditentukan sebelumnya. Apa yang terjadi dengan dana yang telah terkumpul? Apakah dana tersebut dapat diambil? Seandainya kasus ini benar-benar terjadi, umumnya perusahaan DPLK memperkenankan para peserta mengambil kembali dananya dengan dua ketentuan mengenai penarikan dana yang sudah diiur oleh peserta. Pertama, penarikan dapat dilakukan oleh peserta yang masih aktif tapi membutuhkan dana untuk suatu keperluan. Dalam hal ini peserta dapat melakukan penarikan sebanyak-banyaknya empat kali setahun dengan jarak waktu masing-masing penarikan minimal satu bulan. Dan setiap kali penarikan setinggi-tingginya hanya 10 persen dari total akumulasi iuran. Jumlah dana yang ditarik tidak termasuk pengembangannya. Kedua, penarikan dana dilakukan sekaligus oleh peserta yang karena sesuatu hal tidak dapat lagi atau berhenti sebagai peserta. Dalam hal ini, peserta dimungkinkan menarik seluruh dana yang disetor, tapi tidak termasuk hasil pengembangannya. Selain itu peserta juga dibebani biaya penarikan sebesar 3 persen. Ilustrasinya seperti ini. Usia Anda pada saat mengikuti program pensiun 30 tahun. Lamanya orang pensiun adalah 20 tahun. Dengan kata lain, Anda berencana untuk pensiun diusia 50 tahun. Dalam mengikuti program ini Anda mengeluarkan iuran tetap setiap bulan sebesar Rp. 300,000. Tanpa diduga di usia 40 tahun, Anda terkena PHK dan tidak mampu lagi untuk meneruskan pogram tersebut. Dengan demikian dana yang telah Anda bayarkan dalam bentuk iuran pasti selama 10 tahun adalah Rp.300,000 x 12 x 10, yaitu Rp.36 juta. Angka ini hanya merupakan pokoknya saja, sedangkan pengembangannya sangat bergantung pada masing-masing DPLK dalam mengelola dan juga pilihan investasi yang Anda pilih. Katakanlah, pengembangan dari dana yang telah Anda setorkan sebesar Rp.24 juta, itu berarti bahwa dana Anda yang telah terkumpul sebesar Rp.60 juta. Bila Anda berhenti sebagai peserta maka dana yang bisa Anda ambil adalah uang yang telah Anda kumpulkan sebesar pokoknya saja, yakni Rp.36 juta. Sedangkan dana pengembangannya yang berjumlah Rp.24 juta, apa boleh buat, bukan lagi merupakan hak Anda. Itu merupakan konsekuensi dari berhentinya Anda sebagai peserta.
Konsekuensi lain adalah Anda harus membayarkan sebesar 3 persen dari dana pokok atau Rp. 1,080 juta (3 persen x Rp.36 juta) ke lembaga DPLK. Satu hal lain yang juga Anda harus diingat bahwa penarikan yang Anda lakukan dianggap sebagai pendapatan dan akan dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat itu. Terlihat bahwa ini merugikan, tapi begitulah aturan yang berlaku dalam lembaga DPLK secara umum. Demikianlah sedikit mengenai program pensiun yang dikeluarkan oleh DPLK. Dengan program ini, dapat memberikan peluang bagi Anda individu atau keluarga untuk dapat hidup sejahtera di masa pensiun nanti.

2.4.8 Keuntungan mengikuti Program Pensiun DPLK
Keuntungan Pemberi Kerja/Perusahaan :
o Dapat melaksanakan program pensiun, tanpa mendirikan dana pensiun sendiri.
o Iuran Perusahaan untuk karyawan dianggap sebagai biaya sehingga mengurangi Pajak Penghasilan Badan (PPh 25).
o Besarnya iuran bersifat fleksibel, dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan/pemberi kerja
o Menjadi daya tarik untuk mempertahankan dan merekrut karyawan berkualitas
Keuntungan Karyawan:
o Iuran dibukukan langsung atas nama rekening karyawan.
o Iuran karyawan menjadi faktor pengurang Pajak Penghasilan (PPh 21).
o Iuran dapat dipotong langsung dari gaji karyawan.
o Dapat memilih arahan investasi sesuai dengan keinginannya.
o Memperoleh manfaat pensiun bulanan tetap di saat pensiun sehingga penghasilan bulanan/kesejahteraan hidup di hari tua terjamin.
o Hasil investasi tidak dikenakan pajak.







2.4.9 Bagaimana Program Pensiun DPLK dapat dilaksanakan ?
 Program Pensiun DPLK dapat dilaksanakan dengan membayar iuran/kontribusi kepesertaan.
 Iuran/kontribusi DPLK diperoleh dengan cara 100% diberikan oleh karyawan, atau 100% dibayarkan oleh perusahaan, dan atau gabungan iuran/kontribusi dari karyawan dan perusahaan.
 Besarnya iuran/kontribusi DPLK bersifat fleksibel, dapat disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan atau karyawan.

2.5 Kesejahteraan
Pertama kali orang mempelajari kesejahteraan sosial akan menghadapi masalah yang berkenaan dengan istilah itu sendiri, tetapi tidak berakhir sampai di sini. Setelah masalah itu sendiri terjawab, masalah yang lebih luas, berkenaan dengan substansi dari istilah tersebut muncul, seperti pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut ini. Kesejahteraan sosial merupakan suatu aktivitas atau setandan aktivitas yang dimaksudkan untuk menolong orang yang berada di bawah tekanan sosial tertentu untuk meraih kembali keseimbangannya, kepercayaan dirinya dengan menghilangkan sebab-sebabnya.
Untuk meunjukkan bahwa kesejahteraan sosial merupakan suatu kajian yang ilmiah atau ilmu, selanjutnya akan dikutipkan beberapa batasan kesejahteraan sosial sebagai berikut :
Kesejahteraan Sosial ialah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusialaan, dan ketentraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warganegara untuk mengabdikan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak azasi serta kewajiban sesuai dengan pancasila (Pemerintah dan DPR RI, 1983 : 64)
Kesejahteraan Sosial, keadaan sejahtera pada umumnya, yang meliputi keadaan jasmaniah, rohaniah dan sosial dan bukan hanya perbaikan dan pemberantasan keburukan sosial tertentu saja; jadi merupakan suatu keadaan dan kegiatan (Suparlan, et al, 1983:58).
Menurut Segal dan Brzuzy (1998:8), "kesejahteraan sosial adalah kondisi sejahtera dari suatu masyarakat. Kesejahteraan sosial meliputi kesehatan, keadaan ekonomi, kebahagiaan, dan kualitas hidup rakyat."

Sedangkan Midgley (1995:14) menjelaskan bahwa:
... suatu keadaan sejahtera secara sosial tersusun dari tiga unsur sebagai berikut. Itu adalah, pertama, setinggi apa masalah-masalah sosial dikendalikan, kedua, seluas apa kebutuhan-kebutuhan dipenuhi dan terakhir, setinggi apa kesempatan-kesempatan untuk maju tersedia. Tiga unsur ini berlaku bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas dan bahkan seluruh masyarakat.

Menurut Segal dan Brzuzy (1998 : 9) mengemukakan bahwa:
“kebijakan kesejahteraan sosial adalah apa saja yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan, selanjutnya kesejahteraan sosial menunjuk pada tindakan-tindakan pemerintah dan swasta berupa penyediaan-penyediaan pelayanan-pelayanan atau pendapatan yang mempunyai suatu dampak pada kesejahteraan masyarakat.

Dari uraian diatas, kita dapat mengerti bahwa program kesejahteraan sosial merupakan produk kebijakan sosial. Contoh program kesejahteraan sosial yang menyentuh kita semua adalah Kesejahteraan hari Tua, khususnya program DPLK dan Asuransi.
Menurut T. Sumarnonugroho (1984 : 53),
“Perencanaan kesejahteraan sosial merupakan perencanaan pemecahan masalah yang mencangkup kebijakan-kebijakan serta penjajagan-pejajagan yang disusun secara sistematik sebagai pegangan untuk mewujudkan penggunaan dan distribusi sumber-sunber daya sehingga dapat benar-benar efisien dan efektif’. Sedangkan perencanaan sosial dirumuskan sebagai “Suatu proses kegiatan yang mengarah tercapainya tujuan-tujuan tertentu dengan menunjukkan pendekatan-pendekatan masalah sosial”.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan sosial bisa berupa penyediaan layanan-layanan seperti asuransi dan DPLK merupakan suatu perencanaan yang direncanakan oleh masyarakat untuk menghindari resiko dimasa yang akan datang serta mempersiapkannya pada masa ia produktif. Sehingga kesejahteraan didalam individu-individu masing-masing menjadi terjamin.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian
Umar Husein (2003:30) mengemukakan “mengelompokkan desain penelitian menjadi eksploratori, desain deskriptif, dan desain kausal”. Dan dua kelompok terakhir dari desain penelitian ini biasa disebut desain konklusif, yaitu desain yang memiliki konklusi pada akhir penelitiannya.
Desain penelitian diartikan sebagai rencana, struktur dan strategi, untuk melakukan penyelidikan guna menjawab pertanyaan - pertanyaan penelitian dan mengendalikan variabel (Kerlinger, 1973).
Menurut (Singarimbun, 1987:3) mengemukakan “Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok”. Kemudian berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kuesioner, peneliti akan melakukan pengajuan hipotesa, dengan demikian penelitian ini bersifat assosiatif research yaitu dengan data yang didapat, maka peneliti menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis.
Adapun gambar desain penelitian yang menghubungkan antara variabel X (variabel bebas / Independent) produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) dan variabel Y (Variabel terikat / dependen) jaminan kesejahteraan, adalah sebagai berikut :






Ryx

Gambar 2
Hubungan Variabel Penelitian
Sumber : Sugiyono Metode Riset Bisnis 2005

Keterangan :
X = Variabel Bebas / Variabel Independen (produk DPLK BNI
Simponi (Simpanan Pensiunan BNI)
Y = Variabel terikat / Variabel Dependen (Jaminan Kesejahteraan
Nasabah)
Ryx = Korelasi antara variabel bebas dengan varible terikat
€ = Epsilon ( Variabel bebas lainnya yang dapat mempengaruhi
variabel terikat, akan tetapi tidak diteliti kecuali hipotesis ditolak)
Bila kesejahteraan masyarakat meningkat, maka produk DPLK BNI simponi solusinya. Jadi yang menyebabkan kesejahteraan masyarakat meningkat adalah adanya produk DPLK BNI Simponi.

3.2 Operasional Variabel
Definisi operational variabel ini akan memuat berbagai indikator konsepsi variabel dan kalau mungkin, untuk mempermudah penyusunan indikator juga bisa sub variabel (dimensi) berdasarkan konsepsi variabel tersebut. Indikator yang berasal dari konsepsi variabel atau dari sub variabel ini merupakan alat kontrol untuk penjelasan dan peterjemahan kedalam bentuk instrumen penelitian. Sehingga mempermudah penulis dalam menyusun kuesioner penelitian seperti dibawah ini :











Tabel 1
Operasionalisasi Variabel
NO VARIABEL DIMENSI INDIKATOR BUTIR JML
1 2 3 4 5 6




1.



Produk DPLK BNI Simponi (X)


Internal Manajemen perusahaan 1,2 2
SDM 3 1
Pemanfaatan teknologi 4,5 2
Promosi 6 1
Paket investasi 7 1


Eksternal Kondisi pesaing 8 1
Perilaku nasabah 9,10,11 3
Kondisi ekonomi 12 1
Pemerintah 13,14 2

2.
Kesejahteraan Nasabah (Y)
Output Kesejahteraan nasabah 1,2,3,4 4
Manfaat DPLK BNI Simponi 5,6,7,8 4

Input Program Pemerintah 9,10,11 3
Investasi 12,13,14 3

Dari tabel diatas merupakan acuan dalam membuat kuesioner yang disebarkan kepada responden yang terkumpul secara lengkap satu persatu untuk menilai layak atau tidaknya masing masing jawaban tersebut dianalisis. Langkah berikutnya adalah pemberian skor terhadap responden dengan cara sebagai berikut :
• Jawaban opsi A diberikan nilai 5
• Jawaban opsi B diberikan nilai 4
• Jawaban opsi C diberikan nilai 3
• Jawaban opsi D diberikan nilai 2
• Jawaban opsi E diberikan nilai 1

3.3 Populasi dan Sampel
Tahap penentuan populasi dan sampel dapat digunakan sebagai sumber data. Apabila keseluruhan obyek secara utuh dijadikan sebagai sumber data maka yang digunakan adalah populasi penelitian. Sedangkan apabila hasil penelitian akan digeneralisirkan (kesimpulan data sampel untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif. Pengambilan sampel secara representatif ini bisa mempergunakan berbagai cara seperti dijelaskan dalam pembahasan populasi dan sampel.

3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan keudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu (Sugiyono, 2005:72). Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu para peserta DPLK yang menjadi peserta DPLK BNI Simponi sebanyak 10.896 orang.

3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel yang akan diberlakukan untuk populasi. Untuk sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan Simple Random Sampling, Dikatakan simpel (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen Jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian tergantung pada tingkat kesalahan yang dikehendaki. Tingkat kesalahan yang dikehendaki sering tergantung pada sumber dana, waktu dan tenaga tersedia. Makin besar tingkat kesalahan maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya, makin kecil tingkat kesalahan, maka akan semakin besar jumlah anggota sampel (Sugiyono, 2005:74).
Pada penelitian, untuk kemudahan dalam pengambilan data dan keragaman tingkat kesejahteraan nasabah, maka peneliti akan mengambil sampel sejumlah 100 orang peserta / nasabah DPLK BNI Simponi kantor cabang pusat jakarta untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini yang diambil secara acak yang akan memberikan pernyataan.

3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik dan alat pengumpulan data yang diperlukan disini adalah teknik pengumpulan data yang paling tepat, sehingga betul-betul didapat data yang valid dan reliabel. Jangan semua teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi) itu dicantumkan kalau sekiranya tidak dapat dilaksanakan. Selain itu konsekuensi dengan mencantumkan semua teknik pengumpulan data adalah setiap teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus ada datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan obyektif penggunaan berbagai teknik dan alat sangat diperlukan, tetapi bila satu teknik dipandang mencukupi maka teknik yang lain digunakan menjadi kurang efisien.
Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu, kualitas instrumen penelitian, dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan realibilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah diuji validitas dan realibilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan realibel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya.

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Didalam teknik pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Didalam hal ini peneliti menggunakan kedua data tersebut yakni data primer dan sekunder., peneliti memperoleh data-data dengan menggunakan :
a. Studi kepustakaan (Library research)
Penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder melalui buku-buku, literatur, artikel, internet (browsing) serta bahan-bahan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
b. Studi lapangan (Field research)
Penelitian lapangan dilakukan melalui tinjauan langsung ke perusahaan yaitu kunjungan ke perusahaan untuk memperoleh data primer.
c. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan dipertanyakan.
d. Kuesioner (angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

3.4.2 Alat Pengumpulan Data
Alat atau instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya (Riduwan, 2004:98). Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan dalam benda, misalnya angket, daftar list, skala, pedoman wawancara, lembar pengamatan atau panduan pengamatan, soal ujian dan sebagainya.
Sejalan dengan teknik pengumpulan data yang dipergunakan, maka dalam pengumpulan data peneliti akan mempergunakan alat bantu daftar pertanyaan berupa angket dan lembar pengamatan yang keduanya bersifat terstruktur. Khusus untuk alat pengumpulan data berbentuk angket, maka diperlukan pengujian validitas dan reliabilitas data dari instrumen tersebut. Kedua pengujian ini diperlukan kepada hasil jawaban dari responden. Atas dasar hal tersebut maka peneliti akan mempergunakan analisis faktor, yaitu dengan cara mengkorelasikan antara skor faktor dengan skor total. Apabila korelasi tiap faktor tersebut memiliki nilai 0,3 keatas maka faktor tersebut merupakan konstruk kuat (valid). Sedangkan untuk menguji realiabilitas angket maka peneliti akan mempergunakan rumus sebagai berikut :

ri = 2rb
1+rb
Keterangan :
ri : Realiabilitas Internal Seluruh Item
rb : Korelasi Produk Moment antara belahan pertama dan kedua

3.5 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh di lapangan, kemudian dianalisis dengan analisa yang ditujukan untuk melihat sampai sejauh mana pelaksanaan mekanisme Kesejahteraan Peserta / Nasabah Pada DPLK BNI Simponi dalam menggambarkan jaminan kesejahteraan nasabahnya/pesertanya. Dan untuk membuktikannya peneliti menggunakan analisis korelasi product moment. Analisis ini merupakan teknik yang digunakan untuk menentukan hubungan variabel-variabel, regresi juga mempunyai arti hubungan sebab akibat (kausal).
Adapun rumus dari KORELASI PRODUCT MOMENT dengan rumus sebagai berikut:

RYX = n∑XY – (∑X) (∑Y)
[n ∑ X2 – (∑X)2] [n ∑ Y2 – (∑ Y)2]

Keterangan :
Ryx : Koefisien Korelasi
X : Variabel Bebas (Produk DPLK BNI Simponi)
Y : Variabel Terikat (Kesejahteraan Nasabah)
n : Jumlah Populasi
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel produk DPLK BNI Simponi (X) terhadap kesejahteraan nasabah (Y) maka dipergunakan analisis koefisien determinasi yang dirumuskan sebagai berikut :

KD = R yx 2 x 100%
Keterangan :
KD : Koefisien Determinasi
Ryx : Koefisien Korelasi
Selain analisis korelasi, peneliti juga mempergunakan analisis regresi. Menurut Anto Dajan analisis adalah menentukan bentuk persamaan yang sesuai guna meramalkan rata-rata Y melalui X yang tertentu atau rata-rata X melalui Y yang tertentu, menduga kesalahan. Kemudian agar dapat melakukan perhitungan dengan baik peneliti terlebih dahulu menetapkan bahwa produk DPLK BNI Simponi sebagai variabel X dan Kesejahteraan Nasabah sebagai variabel Y.
Adapun analisis regresi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana yang persamaannya adalah sebagai berikut :

^
Y = a + bX
Keterangan :
^
Y : Prediksi kesejahteraan nasabah
a : Interval
b : Koefisien regresi
X : Produk DPLK BNI Simponi
Untuk menghitung a dan b berdasarkan X dan Y menurut Sugiyono (2004:204) dalam bukunya “Metode Penelitian Bisnis” menggunakan rumus sebagai berikut :

a = (∑Y) (∑X2) – (∑X) (∑XY)
n (∑X2) – (∑X)2


b = n (∑XY) – (∑X) - (∑XY)
n (∑X)2 – (∑X)2)

Digunakan metode regresi linier sederhana untuk menentukan hubungan antara variabel X dengan Variabel Y dan untuk menentukan asosiasi linier antara variabel dependen dan variabel independen serta untuk menguji berapa besar variabel-variabel terikat dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel bebas.
3.6 Rancangan Hipotesis
Rancangan uji hipotesis penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh suatu kejadian lain secara kuantitatif, apakah ada perubahan atau pengaruhnya, maka peneliti menggunakan rumus koefisien korelasi yang dilambangkan dengan huruf “ r ” dimana nilai koefisien korelasi menurut Sugiyono (2004:183) mempunyai kriteria sebagai berikut:
• 0,000 - 0,199 = terdapat korelasi sangat rendah
• 0,200 – 0.339 = terdapat korelasi rendah
• 0,400 – 0, 599 = terdapat korelasi sedang
• 0,600 – 0,799 = terdapat korelasi kuat
• 0,800 – 1,000 = terdapat korelasi kuat sekali
Kemudian untuk lebih menyakinkan pengaruh antara 2 (dua) variabel tersebut di atas, maka dilakukan pengujian korelasi tersebut melalui uji dua pihak atau two tail test yaitu sebagai berikut :
Ho : “Tidak Terdapat Pengaruh Produk DPLK BNI Simponi
(Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk”.
Ha : “Terdapat Pengaruh Produk DPLK BNI Simponi
(Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) tbk”.
Rancangan Uji Hipotesis adalah sebagai berikut :
o Jika X2 hitung < X2 tabel Maka Ho Diterima
o Jika X2 hitung > X2 tabel Maka Ho Ditolak
Berdasarkan pendapat Sugiyono (2004:184) pengujian hipotesis dapat valid disimpulkan apabila data tersebut setelah t test (hitung) dengan rancanggan pengujian sebagai berikut :
 Ho diterima dan Ha ditolak apabila t dihitung < t tabel.
 Ho ditolak dan Ha diterima apabila t dihitung > tabel.
Rumus uji signifikasi korelasi product moment dapat ditunjukkan dengan uji hipotesa, yaitu sebagai berikut :

t hitung = Ryx n - 2


1 – ryx2

Keterangan : t = t hitung
Ryx = koefisiensi korelasi
N - 2 = derajat kebebasan

3.7 Lokasi dan Jadual Penelitian
Lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) tbk. Penelitian dilakukan selama 4 (empat) bulan yang dimulai bulan Januari 2009 sampai dengan bulan April 2009. Adapun jadwal penelitiannya adalah sebagai berikut :




Tabel 2
Jadual Waktu Pelaksanaan Penelitian

No.
Jadual Kegiatan Bulan
Januari’09 Bulan
Febuari’09 Bulan
Maret’09 Bulan
April’09
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pendesainan Proposal
2 Studi Pustaka
3 Perijinan
4 Survey Awal
5 Membuat Kuesioner
6 Seminar Usulan Penelitian
7 Penyebaran Kuesioner
8 Pengelolaan Data Hasil Koesioner
9 Penulisan Laporan Akhir
10 Sidang Skripsi











BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Perusahaan
4.1.1 Sejarah Berdirinya PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Berdiri sejak 1946, BNI yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia, merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Bank Negara Indonesia mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Oeang Republik Indonesia, pada malam menjelang tanggal 30 Oktober 1946, hanya beberapa bulan sejak pembentukannya. Hingga kini, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sementara hari pendiriannya yang jatuh pada tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional. Menyusul penunjukan De Javsche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah Belanda sebagai Bank Sentral pada tahun 1949, Pemerintah membatasi peranan Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Bank Negara Indonesia lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan kemudian diberikan hak untuk bertindak sebagai bank devisa, dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri. Sehubungan dengan penambahan modal pada tahun 1955, status Bank Negara Indonesia diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini melandasi pelayanan yang lebih baik dan tuas bagi sektor usaha nasional. Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai “BNI 46”. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat “Bank BNI” ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988.
Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996. Kemampuan BNI untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan lingkungan, sosial-budaya serta teknologi dicerminkan melalui penyempurnaan identitas perusahaan yang berkelanjutan dari masa ke masa. Hal ini juga menegaskan dedikasi dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja secara terus-menerus. Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik, setelah keberhasilan mengarungi masa-masa yang sulit. Sebutan 'Bank BNI' dipersingkat menjadi 'BNI', sedangkan tahun pendirian “46” digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebanggaan sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berangkat dari semangat perjuangan yang berakar pada sejarahnya, BNI bertekad untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi negeri, serta senantiasa menjadi kebanggaan negara.

4.1.2 Sejarah Dana Pensiun BNI (SIMPONI)
Dana Pensiun Lembaga Keuangan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. yang lebih dikenal dengan sebutan DPLK BNI, didirikan oleh PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sejak tanggal 5 Juli 1994 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Peraturan Dana Pensiun DPLK BNI disahkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 28 Desember 1993 dengan Keputusan Nomor KEP/301/KM.17/ 1993, dan berdasarkan Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak No. Reg : 015576-0226, NPWP DPLK BNI adalah 1.620.517.1-022. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia tersebut sudah dimuat dalam tambahan Berita Negara RI tanggal 4 Maret 1994 Nomor 18, yang telah di update berdasarkan keputusan Menteri Keuangan No. Kep.1100/KM.17/1998.
Pengurus DPLK BNI adalah Direksi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., Dewan Pengawas DPLK BNI juga dilakukan oleh Komisaris PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan pegawai-pegawai yang menangani operasional DPLK BNI adalah pegawai PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Dalam menjalankan bisnisnya, DPLK BNI hanya bertindak sebagai pengemban amanah (trustee) yang menghimpun iuran dari peserta, mengelola dan mengembangkan dana secara optimal dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian (Prudent), sehingga memberikan rasa aman bagi peserta DPLK BNI.
DPLK BNI sejak tahun 2001 hingga saat ini telah menempati posisi sebagai Market Leader dari seluruh penyelenggara DPLK di Indonesia, baik dari segi jumlah kepesertaannya maupun penghimpunan dananya.

4.1.3 Struktur Organisasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Adapun divisi – divisi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sampai saat ini adalah sebagai berikut :
1. Dewan Komisaris
Terdiri dari Komisaris Utama dan anggota Komisaris
2. Susunan Direksi
Yang Membawahi :
a. Satuan Pengawasan Intern
Berfungsi untuk membantu direksi dalam menjalankan, mengawasi jalannya unit organisasi sesuai dengan prosedur, peraturan, dan kebijaksanaan – kebijaksanaan direksi, serta membantu segenap unit organisasi dalam memperbaiki dan meluruskan kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan dan kebijaksanaan.
b. Direktur Korporasi
Membawahi divisi korporasi, kredit khusus, unit pengelolaan anak perusahaan, unit pengelolaan cabang.
1. Divisi Korporasi
Fungsi yaitu :
a. Menyusun dan melaksanakan program pemasaran tahunan untuk nasabah KPI yang sudah ditetapkan.
b. Mengelola secara menyeluruh hubungan Bank Negara Indonesia dengan nasabah KPI yang sudah ditetapkan.
c. Mengelola perencanaan strategis divisi KPL.
d. Mengembangkan calon nasabah.
2. Divisi Kredir Khusus
Fungsinya, yaitu :
a. Mengelola debitur – debitur korporasi bermasalah dan mencari solusi masalah.
b. Menyelesaikan permasalahan debitur macet dalam upaya untuk perlunasan kredit.
3. Unit Pengelolaan Perusahaan Anak
Fungsinya, yaitu :
a. Mengembangkan sistem penyediaan manajemen bisnis dan manajemen perusahaan anak.
b. Mengevaluasi kinerja manajemen dan bisnis perusahaan anak.
c. Direktur Ritel
1. Divisi Pengelolaan Bisnis Kartu
Fungsinya adalah mengelola pembuatan kartu yang dikeluarkan oleh Bank Negara Indonesia.
2. Divisi Pemasaran Ritel
Fungsinya adalah meneliti dan mengembangkan produk – produk yang dihasilkan oleh Bank Negara Indonesia, membuat sistem dan prosedur – prosedur cabang Bank Negara Indonesia, serta melaksanakan perubahan sesuai dengan keadaan.
3. Divisi Pembinaan Bisnis Ritel dan Menengah
Mempunyai fungsi yaitu menyelia manajemen wilayah serta mengelola perencanaan strategi Pembinaan Bisnis Menengah dan wilayah dan untuk memproses permohonan kredit diatas wewenag wilayah, memantau portepel kredit wilayah dan menyelia perkembangan bisnis manajemen menengah.
d. Direktur Internasioanal
1. Divisi Hukum
Fungsinya, yaitu :
a. Memberikan layanan dan jaminan hukum pada segenap unti mengenai kebijaksanaan atau praktek hukum yang terkait dengan usaha Bank Negara Indonesia.
b. Memberikan sasaran kepada unit organisasi lain atas tindakan yang menyimpang dari pola kebijaksanaan dan standar hukum yang telah ditetapkan oleh Bank Negara Indonesia.


2. Divisi Internasional
Mempunyai fungsi untuk melaksanakan penyediaan dan pembinaan terhadap cabang – cabang d luar negeri, serta memabantu direksi dalam membina hubungan dengan bank – bank responden.
e. Direktur Treasuri
1. Divisi Treasuri
Mempunyai fungsi, yaitu mengelola dana rupiah dan valuta asing, serta memberikan pertimbangan kepada direksi mengenai keadaan posisi asset dan liabilitas.
2. Divisi Investasi dan Jasa Keuangan
Fungsinya mengelola debitur – debitur korporasi bermasalah lalu memberikan jalan keluar untuk perbaikan serta menyelesaikan masalah – masalah debitur macet, dalam upaya untuk memperluas kredit.
f. Direktur Keuangan
1. Divisi Pengendalian Keuangan
Mempunyai fungsi untuk membuat sistem dan prosedur akuntansi untuk digunakan seluruh unit organisasi baik untuk transaksi rupiah maupun valuta asing, melakukan pertimbangan – pertimbangan kepada direksi mengenai posisi keuangan.
2. Divisi Umum
Fungsinya mengelola properti dan kelogistikan Bank Negara Indonesia, dalam rangka menunjang kebutuhan unit lain di lingkungan Bank serta merencanakan sistem kepropertian, sehingga dapat lebih berdaya dan berhasil guna.
g. Direktur Perencanaan
1. Divisi Perencanaan Strategis
Berfungsi untuk mempersiapkan perencanaan strategis Bank Negara Indonesia, berupa anggaran perencanaan bisnis dan corporate plan serta memantau pelaksanaannya, serta mengadakan penelitian – penelitian ekonomi secara makro yang menyangkut masalah – masalah perbankan, ekonomi internasional dan moneter sebagai bahan kajian dalam mengambil keputusan baik oleh direksi maupun untuk tingkat divisi ke bawah.
2. Divisi Sumber daya Manusia
Mempuyai fungsi yaitu merencanakan sistem kepegawaian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk baik untuk pelatihan manajemen / pengembangan karir maupun keterampilan perbankan dan merencanakan sistem pelatihan yang tepat guna sesuai dengan kebutuhan kepegawaian Bank.
3. Divisi Teknologi Informasi
Berfungsi menyiapkan sistem otomasi yang digunakan oleh Bank Negara Indonesia dan memberikan dukungan kepada seluruh unit organisasi dalam melaksanakan otomasi yang ditetapkan oleh direksi.

4.1.4 Perkembangan Usaha PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Untuk memberikan layanan yang optimal kepada masyarakat, Bank Bank Negara Indonesia berperan secara aktif dalam pengaturan kredit sindikasi, pembiayaan ekspor dan impor, dan menawarkan produk yang berhubugan dengan transaksi devisa. Bank Negara Indonesia juga merupakan salah satu pelopor di Indonesia dalam hal pengiriman uang secara elektronik dan jasa kustodian. Di samping memiliki hubungan perkreditan yang cukup baik dengan indutri besar dan BUMN, Bank Negara Indonesia juga memberikan pelayanan perkreditan kepada usaha menegah, usaha kecil dan perorangan, koperasi serta berbagai nasabah lainnya. Selain usaha pokok perbankan Bank Negara Indonesia juga menyediakan jasa keuangan lainnya melalui anak perusahaannya yang meliputi bank patungan (joint venture), bank perkreditan rakyat, perusahaan sewa guna usaha (leasing), perusahaan modal ventur, perusahaan dana pensiun, perusahaan efek dan perusahan pembiayaan (multi finance). Sejalan dengan meluasnya kegiatan Bank Negara Indonesia dan sejalan dengan semakin meluasnya kegiatan pembangunan ekonomi, kebutuhan akan tenaga – tenaga kerja yang baru dirasakan semakin meningkat, begitu pula dengan dana assets, kredit dan lain – lain.

BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Data
Deskripsi data merupakan suatu gambaran secara menyeluruh tentang variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini secara mandiri, yang meliputi variabel (X) Produk DPLK BNI Simponi dan Variabel (Y) Jaminan Kesejahteraan Nasabah. Namun, seperti yang dijelaskan dalam Bab Metode Penelitian, setiap jawaban responden yang merupakan data kualitatif (sifat) terlebih dahulu akan dikonversi ke data kuantitatif (angka).
Untuk lebih jelasnya, deskripsi masing – masing variabel dapat dijelaskan sebagaimana berikut ini :
1. Variabel Produk DPLK BNI Simponi
Untuk variabel Produk DPLK BNI Simponi yang dijalankan oleh Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil yang memberikan gambaran yang sangat fluktuatif. Dimana nilai data terendah 30 dan nilai data tertinggi adalah 62. Dengan demikian, jarak antara data terendah ke jarak data tertinggi adalah sebesar 32 (30– 62).
Selain hasil di atas, dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh sebaran hasil analisis data, dimana data numerik yang dihasilakan memiliki nilai rata – rata sebesar 46,15 dan data tersebut memiliki standar deviasi sebesar 6,08. Apabila peneliti rangkum hasil analisis berdasarkan sebaran nilai pusat dari data variabel Produk DPLK BNI Simponi yang dilaksanakan oleh Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3
Ukuran-ukuran Nilai Pusat Variabel Produk DPLK BNI Simponi
NO. PARAMETER NILAI
1 Nilai Tertinggi 62
2 Nilai Terendah 30
3 Nilai Rata – rata 46,15
4 Jangkauan Data 32
5 Standar Deviasi 6,08
6 Total Responden 100
Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Koesioner, Penelitian 2009
Untuk lebih memperjelas distribusi data variabel Produk DPLK BNI Simponi dari hasil jawaban responden, maka peneliti akan menyajikan ke dalam bentuk diagram batang yang akan dipresentasikan pada gambar berikut :


Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Kuesioner, Penelitian 2009
Gambar 3
Kelompok – kelompok Data Hasil Tanggapan Responden
Untuk Variabel Produk DPLK BNI Simponi
Pada gambar diatas, terdapat penumpukan nilai data yang terjadi pada bagian tengah. Dengan demikian, gambar tersebut memperkuat pernyataan distribusi data akan menyebar normal, bila ada penumpukan angka di bagian tengah, sedangkan kecendrungan angka akan menurun di awal dan pada akhirnya setelah melewati titik maksimal akan terjadi penurunan angka kembali. Atau dengan kata lain pada gambar di atas menunjukkan data pertumbuhan nilai jawaban responden sampai dengan titik antiklimaks, yang kemudian terjadi penurunan nilai jawaban responden.


2. Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah
Pada variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah yang dilaksanakan di Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat berdasarkan hasil analisis statistik deskripsi diperoleh hasil yang memberikan gambaran fluktuasi hasil jawaban responden. Dimana berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa nilai data terendah sebesar 34 dan nilai data tertinggi sebesar 64. Dengan demikian, jarak data terendah ke data tertingginya sebesar 30 (34 – 64).
Berdasarkan hasil perhitungan analisis statistik deskriptif pula diperoleh gambaran mengenai sebaran hasil analisis data, dimana data numerik yang dihasilkan ternyata memiliki nilai rata – rata sebesar 45,33 dan memiliki standar deviasi 4,91. Apabila peneliti rangkum hasil analisis berdasrkan sebaran nilai pusat dari data variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah adalah sebagai berikut :









Tabel 4
Ukuran-ukuran Nilai Pusat Variabel Kesejahteraan Nasabah
NO. PARAMETER NILAI
1 Nilai Tertinggi 64
2 Nilai Terendah 34
3 Nilai Rata – rata 30
4 Jangkauan Data 45,33
5 Standar Deviasi 4,91
6 Total Responden 100
Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Kuesioner, Penelitian 2009
Untuk lebih memperjelas distribusi data variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah dari hasil jawaban responden maka peneliti berikut ini akan menyajikan ke dalam bentuk diagram batang yang akan dipresentasikan pada gambar berikut :



Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Kuesioner, Penelitian 2009
Gambar 4
Kelompok – kelompok Data Hasi; Tanggapan Responden
Untuk Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah
Pada gambar diatas, diperlihatkan adanya penumpukan nilai data yang terjadi pada bagian tengah. Dengan demikian, gambar tersebut memperkuat pernyataan distribusi data akan menyebar normal, bila ada penumpukan angka di bagian tengah, kecendrungan angka akan menurun di awal dan pada akhirnya setelah melewati titik maksimal akan terjadi penurunan angka kembali. Oleh kerena itu, dapat dikatakan bahwa data variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah menyebar normal.

5.2 Pengujian Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan analisis pengujian hipotesis, terlebih dahulu data yang diperoleh harus dilakukan pengujian persyaratan analisis. Teknik pengujian persyaratan analisis yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah (1) Uji Validitas Data, (2) Uji Reliabilitas Data, (3) Uji Normalitas Data, dan Uji Linieritas Data. Uji Homogenitas Data tidak dilaksanakan mengingat jumlah sampelnya sudah melibihi 30. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (1989 : 67) yang mengatakan bahwa Uji Homogenitas Data hanya diperlukan untuk sample yang kecil atau kurang dari 30.
Berdasarkan hasil perhitungan, peneliti akan mencoba menguraikan hasil pengujian persyaratan analisis untuk masing – masing variabel penelitian, sebagai berikut ini.

1. Uji Validitas Data
Pengujian validitas data dari jawaban responden dimaksudkan untuk mengetahui, seberapa banyak butir soal dalam kuesioner yang dibagikan ini bersifat valid (sah). Pengujian validitas dari tiap butir dihunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Selanjutnya memberikan interprestasi terhadap koefisien korelasi, Sugiyono (2004 : 109) menyatakan “item yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk memenuhi syarat jika r = 0.3” jadi kalau korelasi antara butir dengan skor total kurang dari 0.3 maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid. Adapun untuk mencari nilai r maka rumus yang dipergunakan adalah rumus Korelasi Produk Momen.
Untuk variabel Produk DPLK BNI Simponi terdapat 14 butir soal yang dibagikan kepada 100 responden, sehingga korelasi yang dihasilkan sebanyak 14 korelasi, dan nilai korelasi untuk masing – masing butir soal dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 5
Hasil Analisis Item Variabel Produk DPLK BNI Simponi
No. Item Koefisien Korelasi Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. 0,47
0,47
0,43
0,34
0,45
0,56
0,39
0,47
0,6
0,48
0,52
0,43
0,46
0,55 Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Sumber : Hasil Analisis Data Kuantitatif Kuesioner, Penelitian 2009

Dengan mempertimbangkan nilai korelasi untuk setiap butir soal pada variabel Produk DPLK BNI Simponi, yang hasilnya semua nilai korelasinya lebih besar atau sama dengan nilai kritis yang validitas (0.3). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua jawaban responden terhadap setiap butir soal dalam kuesioner dinyatakan valid, dapat disertakan dalam pengujian berikutnya.
Sedangkan hasil dari analisis validitas data untuk variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah. Nilai korelasi untuk masing – masing butir dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 6
Hasil Analisis Item Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah
No. Item Koefisien Korelasi Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. 0,36
0,41
0,41
0,38
0,34
0,.4
0,37
0,37
0,32
0,37
0,57
0,35
0,38
0,36 Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Sumber : Hasil Analisis Data Kuantitatif Kuesioner, Penelitian 2009

Dengan mempertimbangkan nilai korelasi untuk setiap butir soal pada variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah, yang hasilnya semua nilai korelasinya lebih besar atau sama dengan nilai kritis yang validitas (0.3). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua jawaban responden terhadap setiap butir soal dalam kuesioner dinyatakan valid, dapat disertakan dalam pengujian selanjutnya.

2. Pengujian Reliabilitas Data
Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan internal consistency dengan teknik belah dua (split half) yang dianalisis dengan rumus Spearman Brown. Untuk keperluan itu maka butir – butir instrumen dibelah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok instrumen ganjil dan kelompok instrumen genap. Selanjutnya tiap kelompok itu disusun sendiri. Skor butirnya dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total. Kemudian skor total antara ganjil dan genap dicari korelasinya, dan langkah terakhir dengan memasukkan nilai korelasi yang diperoleh pada rumus yang dimasukkan ke dalam rumus Spearman Brown, seperti berikut :

ri = 2rb
1+rb
Untuk mengetahui data jawaban responden reliabel, maka nilai Spearman Brown dibandingkan dengan nilai ktritis, sebesar 0.3. Apabila hasil perhitungan Spearman Brown lebih besar daripada nilai kritis, maka data jawaban responden yang diperoleh bersifat reliabel.
Dengan mengikuti langkah – langkah perhitungan reliabilitas data diatas maka dapat diketahui hasil reliabilitas untuk masing – masing variabel yang digambarkan dalam tabel berikut :
Tabel 7
Hasil Pengujian Reliabilitas Data Variabel Penelitian
No. Variabel Korelasi Spearman Brown Nilai kritis Kesimpulan
1 X 0,602 0,751 0.3 Data Reliabel
2 Y 0,392 0,563 0.3 Data Reliabel
Sumber : Hasil Analisis Data Kuantitatif Kuesioner, Penelitian 2009
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas data di atas, maka secara berturut – turut adalah variabel Produk DPLK BNI Simponi dengan nilai korelasi Spearman Brownnya sebesar 0,751 dan variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah dengan nilai korelasinya sebesar 0,563. Dengan hasil analisis ini, dapat diketahui bahwa seluruh nilai korelasi Spearman Brown masing – masing variabel nilainya lebih besar dari nilai kritisnya (0,3), sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh data hasil dari jawaban responden dapat dinyatakan reliabel baik itu pada variabel Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah.

3. Uji Normalitas Data
Pengujian Normalitas Data dimaksudkan untuk menguji apakah pupolasi data berdistribusi normal atau tidak. Ketentuan pengujian adalah X2 hitung akan berdistribusi normal jika H1 diterima dan tidak berdistribusi normal jika H1 ditolak. Secara statistik dituliskan sebagai berikut :
o H0 : data berasal dari populasi berdistribusi normal
o H1 : data berasal dari populasi tidak berdistribusi normal
Jumlah variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah dua variabel, sehingga untuk pengujian normalitas data juga dapat meliputi dua data variabel tersebut. Pengujian normalitas data ini dibantu dengan tabel pengelompokkan kelas interval yang sudah di bahas di atas, dengan hasilnya disajikan pada tabel berikut (proses perhitungan terlampir) :
Tabel 8
Hasil Uji Normalitas Data

Variabel X2
Hitung Taraf Signifikasi
Kesimpulan
SK 95% SK 99%
Produk DPLK BNI Simponi
;
54,308
;
11,070
15,086 Terima H1 pada SK 95% dan SK 99%
Jaminan Kesejahteraan Nasabah
;
112,529
;
11,070
15,086 Terima H1 pada SK 95% dan SK 99%
Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Kuesioner, Penelitian 2009
Hasil Kesimpulan di atas didasarkan rumusan pengujian hipotesis, seperti berikut ini :
 H0 diterima jika X2 hitung < X2 tabel, populasi tidak berdistribusi normal.
 H1 diterima jika X2 hitung > X2 tabel, populasi berdistribusi normal.
Variabel Produk DPLK BNI Simponi mempunyai nilai X2 (54,308), pada selang kepercayaan 95% hasilnya lebih besar dari pada nilai X2 tabel (11,070), dan begitupun hasilnya pada pengujian lanjut pada selang kepercayaan 99% (15,086), dan hasilnya nilai X2 lebih besar dari X2 sehingga dapat disimpulkan bahwa data variabel Produk DPLK BNI Simponi menyebar normal pada selang kepercayaan 95%.
Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah mempunyai nilai X2 (112,529), pada selang kepercayaan 95% hasilnya lebih besar dari pada nilai X2 tabel (11,070), dan begitupun hasilnya pada pengujian lanjut pada selang kepercayaan 99% (15,086), dan hasilnya nilai X2 lebih besar dari X2 sehingga dapat disimpulkan bahwa data variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah menyebar normal pada selang kepercayaan 95%.

4. Uji Linearitas Data
Pengujian linearitas data antara variabel bebas (Produk DPLK BNI Simponi) dan Variabel Terikat (Jaminan Kesejahteraan Nasabah) dilakukan dengan menggunakan uji F. Pengujian ini diperlukan agar data yang akan di analisis benar – benar linear atau tidak, sehingga apabila tidak linear maka selanjutnya uji berikutnya adalah mempergunakan uji non linear.
Pengujian linearitas mempunyai ketentuan pengujian adalah F hitung akan linear jika H1 diterima dan tidak linear jika H1 ditolak. Secara statistik dituliskan sebagai berikut.
 H0 : model antara variabel bebas dengan terikat berbentuk tidak linear.
 H1 : model antara variabel bebas dengan terikat berbentuk linear.
Adapun perumusan kesimpulan pengujiannya adalah :
 H0 diterima jika F-hitung < F - tabel, populasi tidak mempunyai hubungan data linear.
 H1 diterima jika F-Hitung > F – tabel, populasi mempunyai hubungan data linear.
Berdasarkan hasil perhitungan (Uji F terlampir) dengan menggunakan microsoft Excel diperoleh hasil nilai uji F – hitung sebesar 1,74 tingkat signifikasi 0,000. Apabila dibandingkan dengan nilai F tabel pada selang kepercayaan 95% (1,57) maka nilai F hasil perhitungan hasilnya lebih besar dengan, artinya data dari jawaban responden untuk variabel Produk DPLK BNI Simponi dan Jaminan Kesejahteraan Nasabah berhubungan serta memiliki model linear yang dipercaya dengan tingkat kesalahan 5% atau selang kepercayaan 95%.

5.3 Pengujian Hipotesis
Ada beberapa tahapan dalam melakukan Uji Hipotesis yang mempergunakan beberapa teknik analisis data yaitu, (1) Korelasi Produk Momen, (2) Analisis Determinasi, (3) Analisis Regresi Linear. Adapun hasil perhitungan dan interprestasinya akan peneliti jelaskan seperti berikut ini.


1. Pengujian Korelasi Produk Momen
Untuk menguji hipotesis, sebagai langkah awal dipergunakan uji t test berdasarkan korelasi produk momen dari rumus Pearson. Adapun hasil perhitungan korelasi produk momen dengan menggunakan rumus Pearson adalah sebesar 0,5508. Nilai tersebut kemudian dimasukkan ke dalam rumus Uji t tets. Uji t test dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh diantara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai korelasi produk momen (0,5508) ini kemudia ditransformasi ke pengujian t test dan diperoleh nilai t test sebesar 7,825 (perhitungan pengujian korelasi produk momen terlampir)
Untuk mengetahui tingkat signifikasi pengaruh antara variabel bebas (Produk DPLK BNI Simponi) terhadap variabel terikat (Jaminan Kesejahteraan Nasabah), maka nilai – nilai koefisien korelasi hasil perhitungan atau t test tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai koefisien korelasi t tabel two tail test dari korelasi produk momen. Adapun hasil perbandingan tersebut disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 9
Perbandingan t hitung dengan t tabel two tail test
Berdasarkan Korelasi Produk Momen

Kode Korelasi t
Hitung Taraf Signifikasi
Kesimpulan
SK 95% SK 99%
Produk DPLK BNI Simponi
;
7,825
;
2,000
2,660 Terima H1 pada SK 95% dan SK 99%
Sumber : Hasil Analisis Pengolahan Data Kuesioner, Penelitian 2009
Hipotesis yang diajukan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah di Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat. Adapun rancangan hipotesis yang diajukan sebagai berikut :
 Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikasi antara Produk DPLK
BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah di
Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat.
 H1 : Terdapat pengaruh yang signifikasi antara Produk DPLK
BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah di
Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat.
Dari tabel di atas, diketahui bahwa nilai t untuk Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah adalah sebesar 0,5508. Setelah dibandingkan dengan nilai t tabel one tail test, ternyata nilai t hasil perhitungan (7,825) lebih besar dari t tabel (2,000) pada selang kepercayaan 95% dan pada selang kepercayaan 99% (2,660), sehingga kesimpulannya adalah H1 diterima, berarti terdapat dampak positif antara Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah pada PT. Bank Negara Indonesia (BNI Cabang Jakarta Pusat yang bersifat positif selang kepercayaan 95% dan 99%.




2. Uji Koefisien Determinasi
Pengujian Koefisien Determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas (Produk DPLK) terhadapp variabel terikat (Jaminan Kesejahteraan). Untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dipergunakan rumus koefisien determinasi sebagai berikut :

KD = R yx 2 x 100%
Berdasarkan rumus tersebut, maka didapatkan nilai KD sebesar :
KD = (0,550)2 x 100%
= 0,3025 x 100%
= 30,25 %

Jadi Produk DPLK BNI Simponi mampu mempengaruhi Jaminan Kesejahteraan Nasabah di PT. Bank Negara Indonesia Cabang Jakarta Pusat tersebut, dapat diprediksikan sebesar 30,25 % sedangkan sebagian lain Jaminan Kesejahteraan Nasabah dipengaruhi oleh faktor – faktor lain, selain faktor Produk BNI Simponi yang dilaksanakan oleh pihak BNI.

3. Uji Persamaan Garis Regresi Linear
Pengujian persamaan garis regresi dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan perubahan variabel terikat, apabila variabel bebasnya berubah. Untuk mencari perubahan variabel terikat terhadap variabel bebas digunakan rumus persamaan regresi linear. Dengan menggunakan Microsoft Exel diperoleh hasil persamaan garis regresi linear yang menerangkan hubungan variabel Produk DPLK BNI Simponi dengan Jaminan Kesejahteraan Masyarakat Ŷ = 24,77 + 0,44 X.
Berdasarkan nilai persamaan regresi di atas apabila diilustrasikan ke dalam gambar dua dimensi maka akan terlihat sebagaimana diterangkan oleh gambar berikut ini.

Sumber : Hasil Analisis Data Kuantitatif Kuesioner, Penelitian 2009
Gambar 5
Persamaan Garis Regresi Linear
Hubungan Antara Variabel Produk DPLK BNI Simponi dengan Variabel Jaminan Kesejahteraan Nasabah
Gambar diatas memberikan informasi sebaran keterkaitan antara variabel Produk DPLK BNI Simponi dan Jaminan Kesejahteraan Nasabah yang diwakili oleh distribusi titik – titik yang merupakan nilai posisi dari kaitan antara kedua variabel tersebut. Kemudian distribusi nilai kedua variabel ini dibagi menjadi dua bagian yang sama besar dengan garis pembatas adalah garis regresi linear Ŷ = 24,77 + 0,44 X.
Berikut ini disajikan hasil perhitungan analisis regresi linear dari hasil pengolahan data dengan menggunakan uji analisis ragam, yang disajikan pada tabel 10.
Tabel 10
Hasil Perhitungan Analisis Regresi Linear
Variabel Variasi JK Db RK F - Hitung F - Tabel
Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah Regresi 433,28 1 433,28

21,632 1,57
SK 95%
Residu 1.962,83 98 20,028


Total

2.396,11

99 1,89
SK 99%
Sumber : Hasil Analisis Data Kuantitatif Kuesioner, Penelitian 2009
Untuk pengujian persamaan regresi hasil perhitungan pada tabel. Diatas, maka diajukan rancangan hipotesis, seperti berikut ini :
 H0 : model persamaan garis regresi linear tidak signifikan.
 H1 : model persamaan garis regresi linear signifikan.
Adapun perumusan kesimpulan pengujiannya adalah :
 H0 : diterima jika F hitung < F tabel, model persamaan regresi linear tidak signifikan.
 H1 : diterima jika > F tabel, model persamaan regresi linear signifikan.
F – hitung pada hasil perhitungan regresi linear pada kasus Pengaruh Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah pada PT. Bank Negara Indonesia Cabang Jakarta Pusat, hasilnya adalah (21,632). Hasil perhitungan ini memberikan nilai positif, sehingga nilainya menjadi lebih besar dari F – tabel (1,57) pada selang kepercayaan 95% dan (1,89) pada selang kepercayaan 99% sehingga hasilnya dapat dikatakan bahwa Pengaruh Produk DPLK BNI Simponi terhadap Jaminan Kesejahteraan Nasabah memiliki persamaan regresi linear yang sangat signifikan dan dapat dipercaya pada selang kepercayaan 99%.









BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, selanjutnya peneliti dapat menyimpulkan secara garis besar dari hasil penelitian “Analisis Produk DPLK BNI Simponi (Simpanan Pensiunan BNI) Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia Cabang Jakarta Pusat” adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil analisis korelasi produk momen dapat dibuktikan bahwa pengaruh variabel produk DPLK BNI Simponi terhadap jaminan kesejahteraan nasabah jakarta diketahui nilainya sudah di atas nilai kritis yang dipersyaratkan dalam tabel analisis pengujian t dengan nilai korelasi 0,5508 yang berarti produk DPLK BNI Simponi mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap jaminan kesejahteraan nasabah pada PT Bank Negara Indonesia cabang Jakarta Pusat.
2. Berdasarkan analisis koefisien determinasi dapat dijelaskan bahwa tingkat pengaruh produk DPLK BNI Simponi dalam menggambarkan jaminan kesejahteraan nasabah pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) cabang Jakarta Pusat adalah sebesar 30,25 % yang berarti ada pengaruh lain (epsilon) di luar variabel produk DPLK BNI Simponi yang dapat juga berpengaruh terhadap jaminan kesejahteraan nasabah.
3. Berdasarkan hasil analisis regresi linear dapat dijelaskan bahwa antara variabel produk DPLK BNI Simponi dengan menggambarkan jaminan kesejahteraan nasabah pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) cabang Jakarta Pusat berhubungan secara positif dan bersifat linear dengan memenuhi persamaan Y = 24,77 + 0,44 X.

6.2 Saran
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian yang ingin dicapai. Keterbatasan – keterbatasan tersebut adalah :
1. Keterbatasan yang melekat pada data yang diperoleh melalui kuesioner, karena perbedaan persepsi peneliti dengan responden penelitian. Meskipun telah dicoba untuk diminimalkan dengan melakukan uji pendahuluan, namun keterbatasan ini akan tetap ada dalam sebuah penelitian yang menggunakan data primer.
2. Keterbatasan dalam hal jumlah dan pemilihan sampel penelitian yang hanya dibatasi pada responden yang berdomisili di Jakarta pusat sehingga hasil ini belum tentu dapat digeneralisasi untuk wilayah atau bank lain. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah responden dan wilayah penelitian agar dapat memberikan hasil yang bervariasi.
Dengan mempertimbangkan hasil penelitian yang disarikan dalam kesimpulan – kesimpulan mengenai Analisis Produk DPLK BNI Simponi Dalam Menggambarkan Jaminan Kesejahteraan Nasabah (Studi Kasus Pada Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat, maka peneliti dapat merumuskan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya dan untuk pihak BNI sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil penelitian nilai korelasi produk momen sebesar 0,5508. Hasil korelasi ini harus dikritisi oleh pimpinan, karena untuk meningkatkan persaingan yang kompetitif antar penyedia program DPLK yang berada diwilayah jakarta dan menyakinkan para calon nasabah untuk mengikuti program DPLK dengan melakukan promosi, penyuluhan, serta manfaat mengikuti program DPLK itu sendiri sehingga tercapainya kesejahteraan masyarakat / nasabah yang optimal.
2. Pengelola – pengelola DPLK bekerjasama dengan pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat / nasabah yang optimal untuk mengatasi masalah ketidakamanan ekonomi : pendapatan rendah, pendapatan terhenti (PHK), lonjakan pengeluaran, kematian kepala keluarga dll. Sehingga, kesejahteraan masyarakat / nasabah di usia purna terjamin.
3. Penelitian ini hanya memasukkan variabel Produk DPLK BNI Simponi sebagai variabel bebas yang mempengaruhi Jaminan Kesejahteraan Nasabah pada PT Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Jakarta Pusat dapat dipengaruhi oleh Produk DPLK BNI Simponi Cabang Jakarta Pusat sebesar 30,25 % dan sisanya 69,75 % dipengaruhi oleh variabel epsilon. Atas hasil ini, peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian lanjutan agar diperoleh hasil yang lebih detail mengenai faktor – faktor apa saja yang sekiranya dapat meningkatkan kesejahteraan nasabah. Salah satu faktor epsilon yang menurut peneliti harus ditindaklanjuti daalam pelaksanaan peneliti lanjutan adalah faktor penyuluhan para calon nasabah, kemudian penelitian mengenai studi komparasi dengan bank – bank lain di jakarta yang menjadi pesaing. Adanya peningkatan harga BBM harus diantisipasi, bila perlu pihak manajemen BNI melakukan survey jajak pendapat terhadap masyarkat / nasabah, karena peningkatan harga BBM akan berpengaruh pada kemampuan masyarakat / nasabah untuk menyisihkan sisa dari pendapatannya dengan cara menabung untuk hari purna bila pendapatan yang diterima cenderung tetap walaupun investasi – investasi yang ditanamkan oleh BNI yang dananya bersumber dari nasabahnya cenderung meningkatnya suku bunganya.

DAFTAR PUSTAKA

Alma , H. Buchari. 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfabeta. CV. Bandung.

Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta. Jakarta.

Atmosudirjo, S. Prajudi. 1982. Dasar-dasar Administrasi Niaga. Balai Aksara.

BNI, Bank. 1998. Buku Panduan BNI Simponi. Jakarta.

David , Fred R. 1998. Concepts of Strategic Management. Seventh Edition. New Jersey. Prentice-Hall Inc.

John , Adair. 1999. Action Centered Leadership. London.

Kasmir. 2002. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

P. Siagian, Sondang. 2004. Filsafat Administrasi.Bumi Aksara.

Riduwan. 2004. Metode Penelitian Menyusun Skripsi dan Tesis. Bumi Aksara.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. CV. Bandung,.

Suud, Mohammad. 2006. Kesejahteraan Sosial. Prestasi Pustaka.

Swastha, Basu. 2002. Pengantar Bisnis Modern. Liberty Yogyakarta.

Umar, Husein. 2003. Teknik Menyusun Skripsi dan Tesis. Rajawali Pres. Yogyakarta.

www.google.co.id. 2007. DPLK BNI Simponi. Jakarta.

Tabel 18.
LAMPIRAN PERHITUNGAN UJI LINEARITAS DATA

Adapun rumus mendapatkan nilai F untuk uji linearitas yang dimaksud adalah sebagai berikut :

X12
(k – 2)
F = , dimana K : jumlah pengamatan variabel bebas dan N : jumlah skor
X22
(N – K)

Sedangkan X12 dan X22 dapat dicari dengan rumus berikut :

Y12 (∑Y)2 Yi2
X12 = ∑ ni N b2 (N-1) Sx2 dan X2i2 = ∑Y2 - ∑ ni

Berdasarkan data di atas kemudian diketahui nilai – nilai, yang daapat dirangkum sebagai berikut :

∑ni = 100
∑Yi = 4.533
∑(Yi2/ni = 207.877
∑(Y2/N) = (20.548.089/100) = 205.480,89
b2 = (0,44)2 = 0,1936
Sx2 = (6,08)2 = 36, 9664
n – 1 = 100 -1 = 99
∑(Y)2 = 207.877
k – 2 = 100 – 2 = 98
n – k = 100 – 98 = 2

Setelah diketahui nilai – nilai tersebut, maka diperoleh nilai X12 dan X22 :

Yi2 (∑Y)2
X12 = ∑ ni N b2 (N – 1) Sx2

X12 = 207.877 – 2.078,77 – 0,1936 (99 x 36,9664) = 205.089,49

Yi2
X22 = ∑Y2 - ∑ ni

X22 = 207.877 – 205.480,89 = 2.396,11

Sehingga, didapat nilai uji F adalah :





X12 205.089,49
F = (k – 2) 98 = 1, 74
X22 2.396,11
(N – k) 2

Tabel nilai – nilai kritis F pada a = 0,05 dengan db 98 lawan 2 adalah 1,57, maka nilai F yang diperoleh di atas F tabel. Jadi, Ho diterima. Hal itu berarti garis regresi untuk masing – masing variabel linear. Dengan demikian, data – data itu dapat diolah dengan analisis regresi linear sehingga kita tidak perlu beralih ke regresi non linear.

LAMPIRAN PERHITUNGAN UJI KORELASI PRODUK MOMEN

1. KORELASI PRODUK MOMEN
Rumus yang dipergunakan adalah :

n∑ X Y – (∑X) (∑Y)
Ryx =
√ [n∑X2 – (∑X)2 ][n∑Y2 – (∑Y)2]

100 (210.830) – (4615) (4533)
Ryx = = 0,5508
√ [100(216.647) – (21.298.225)] [100(207.877) – (20.548.089)]

2. UJI SIGNIFIKASI TEST KORELASI PRODUK MOMEN
Rumus yang dipergunakan adalah :

ryx √N - 2
t =
√1 – ryx2





0,5508 √100 – 2
t test = = 7,8252
√1 – (0,5508)2



3. PENGUJIAN PERSAMAAN GARIS REGRESI

RUMUS REGRESI

Ŷ = a + bx

Dimana :
(∑Y) (∑X2) – (∑X) (∑XY)
a = merupakan nilai intersep
n(∑X2) – (∑X)2

n(∑XY) – (∑X) (∑Y)
b = merupakan nilai koefisien regresi
n(∑X2) – (∑X)2


(4.533) (216.647) – (4.615) (210.830)
a = = 24,77
100 (216.647) – (21.298.225)

100 (210.830) – (4.615) (4.533)
b = = 0,44
100 (216.647) – (21.298.225)

Sehingga persamaan regresinya : Ŷ = 24,77 + 0,44X



4. PENGUJIAN PERSAMAAN GARIS REGRESI

Rkreg
Ftest = , dimana
RKres

JKreg JKres
Rkreg = dan Rkres =
dbreg dbres



(∑Y)2
JKreg = b∑XY + a∑Y - dan JKres = JKtotal – JKreg
N

(∑Y)2
JKtotal = ∑Y2 -
N

20.548.089
JKtotal = 207.877 - = 2.396,11
100

(20.548.089)2
JKreg = [(0,44) . (210.830) + (24,77) . (4.533) – = 433,28
100


JKres = 2.396,11 – 433,28 = 1.962,83


433,48
RKreg = = 433,28
1

1.962,83
RKreg = = 20,0288
98

433,28
Ftest = = 21,632
20,0288



DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama : R. Chandra Permana
Tempat & Tgl. Lahir : Jakarta, 16 Januari 1987
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Email : chandra.rcp@gmail.com
Pendidikan : 1. SDN 02 Pagi Ulujami tahun 1999
2. SMPN 267 Ulujami tahun 2002
3. SMK Dewi Sartika tahun 2005
4. STISIP YUPPENTEK tahun 2009
Pengalaman Kerja :
KPM) Kantor Pemberdayaan Masyarakat selama 1
Bulan pada bagian Surveyor tahun 2008.

BNI CREDIT CARD Bag (BCO) Assisten Manager 7 Agustus 2009 Sd Sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar